Teman2, saya jual mouthpiece saxophone, ada 4 alto dan 1 soprano : . ALTO : – Yanagisawa Metal 7


. – Claude Lakey 6*3 

. – Yamaha Custom 7 : 


. – Bari Gold 6 : 



Info lebih lanjut dan harga, bisa kontak saya di 08568501466. BB : 26A63356
Whew… Setelah sekian lama ga bikin blog post atau meng-update blog *bersihin debu dulu*…. Well, I’m back.
Banyak banget sebenernya terjadi hal-hal yang menarik selama gw “meninggalkan” blog ini. Banyak hal telah berubah… Misalnya sekarang gw udah pake Blackberry.
But ok, let’s save those stories for now.
.
.
Pada tanggal 31 Juli kemarin gw sudah bersiap-siap memasuki bulan Agustus dengan ceria, meskipun ini jelas melanggar lagu “September Ceria”. Ada beberapa perencanaan yang udah gw siapin.
Ternyata, apa yang terjadi? Gw memasuki hari pertama, kedua, dan ketiga dengan sakit. Urrggghh. Termasuk ketika lagi nulis ini? Ga sih, gw sekarang uda seger koq, besok udah mau fitness lagi.
.
Hari ini, tadi ketika mendekati jam 9 malam, gw baru aja selesai latihan piano. Tiba-tiba kepikiran : udah lama ya ga ngerekam solo piano? Jadi mau coba ngerekam deh. Tadinya niat rekam antara “Misty”, “That’s All”, atau dua2nya (medley).
Namun, sambil mikirin intro, tiba2 gw diam, dan terpikir untuk mainin lagu lain. Dan jadilah gw memainkan dan merekam lagu ini dalam 3x take (take pertama dan kedua untuk membenahi intro-nya). Tidak ada catatan, semua mengalir saja….
Tags: fly me to the moon, in other words, musik, piano, solo
Beberapa hari lalu, seorang teman (keyboardist juga) mention gw di tweetnya dan menanyakan mengenai home recording (awalnya malah ada nyerempet tentang audio engineering juga – bidang yg lebih memusingkan lg buat gw he3) :
Ok, di post kali ini gw bakal coba jelasin… mungkin dalam beberapa waktu setelah gw publish post ini, bisa gw edit lagi beberapa kali, tergantung dengan komunikasi2 gw selanjutnya dgn temen gw ini.
————–
“Sesuatu” yang ingin direkam
Pada dasarnya, ada 2 hal yang bisa atau ingin direkam :
a.) data audio –> gelombang suara
b.) data MIDI (Musical Instruments Digital Interface) –> command / instruksi musik
Nah, 2 hal ini kita ‘bedah’ dalam format input-proses-output yah….
.
O ya home recording yg dibahas di sini adalah yg menggunakan komputer ya (contoh2 akan dalam konteks OS Windows)
.
AUDIO
Input :
- Jenis : suara, baik vokal maupun instrumen yg dimainkan langsung seperti keyboard, gitar, bas, drum…
- Hardware : Mic , instrumen elektronik (spt keyboard, gitar listrik)
Proses :
- Hardware : audio interface
Mengenai audio interface…. ada jg yg bilang istilahnya converter (karena mengonversikan sinyal audio yg analog menjadi digital – dimasukkan ke komputer berarti digital), atau ada yg bilang soundcard eksternal/tambahan (karena dengan alat ini, beban kerja proses audio tidak dibebankan ke soundcard internal/bawaan tapi ke alat ini. Ini meringankan kerja komputer dan juga meningkatkan kualitas rekaman).
Untuk koneksi dengan komputer, umumnya melalui USB, firewire, atau PCI.
- Software : audio driver, software rekaman
Audio driver software inilah yg membaca dan mengoptimalkan kerja audio interface kita. Optimal itu maksudnya, kita bisa menyesuaikan setting agar sesuai performa komputer kita…
Jadi lebih simple-nya begini :
Tampilan driver ASIO4ALL 2.10 Beta 1
Nah di kiri atas itu ada “Realtek….” dan di bawahnya “USB Audio Codec”. Itu list soundcard yg terhubung dengan komputer. Di situ yg diaktifkan adalah yg USB Audio. Tampilan di atas biasa bisa dilihat di audio settings di berbagai software rekaman.
Di bagian bawah ada “ASIO Buffer Size”. Semakin besar buffer size, semakin besar latency (keterlambatan) audio. Misalnya ketika akan merekam audio, jadi suara yg masuk baru terekam sepersekian detik setelahnya / lebih terlambat gitu. Kalau mainin software instrumen musik dengan controller keyboard, maka sound-nya akan kedengeran agak terlambat. Dalam hal ini, komputer bekerja lebih ringan.
Sebaliknya, semakin kecil buffer size, latency semakin kecil. Tapi kita belum tentu bisa langsung “habisin” slider ke kiri pol, karena belum tentu komputer kita”kuat”. Akibatnya, suara jadi terdengar pecah2/putus2, atau malah software bisa jadi not responding ato crash lho. Jadi, cari setting ‘damai’nya : suara cukup ok/stabil, latency masih tolerable.
.
Selanjutnya, software rekaman. Sekarang ini, kebanyakan yang dipakai adalah yg berupa DAW (Digital Audio Workstation), misalnya Cubase, Nuendo, Sonar, Pro Tools. Disebut DAW karena fitur di software ini sudah komplit : rekaman dan editing audio dan MIDI, mixing, dll.
Output : File audio (WAV, MP3, dll…)
Biasanya untuk audio yg akan di-edit lagi, sebaiknya menggunakan format WAV karena ini adalah format yg uncompressed (makanya sizenya gede banget), kualitas terbaik/asli dari rekaman kita.
- Hardware : Speaker monitor, headphone

Dalam memilih speaker (juga headphone), 2 hal penting yang perlu diperhatikan : power dan respon frekuensi.
Power –> kekuatan speaker untuk merepro suara. Biasanya lebih kuat dianggap lebih baik, tapi perlu diperhatikan juga ukuran dan kondisi akustik ruangan studio. Kalau terlalu kuat juga kurang baik untuk persepsi audio kita.
Resp0n frekuensi –> kemampuan merepro suara dalam berbagai tingkatan frekuensi (treble, middle, bass). Usahakan pilih yg lebih mendekati NETRAL. Tidak terlalu nge-bass, tidak terlalu treble, tidak terlalu middle. Kenapa? Kalau yg terlalu nge-bass, kita akan cenderung mengurangi bass ketika mixing (malah jadi cempreng kan), kalau terlalu treble, kita tergoda untuk naikkan bass (malah jadi terlalu nge-bass). Intinya, kita perlu persepsi yg netral, supaya bisa menilai dan me-mix audio dengan lebih baik.
Tags: audio, basic home recording, headphone. driver, interface, rekaman rumah, soundcard, speaker
Baru-baru ini gw merekam beberapa video di sebuah sesi latihan grup musik akustik di rumah gw, hari Sabtu 14 Mei 2011. Silahkan dinikmati….
Formasi :
- Ramon Sampoel – Vocal
- Robert Reginald – Keyboard
- Albert Victor – Accoustic Guitar
- Danny Kriswandi – Electric Bass
Cintaku – Chrisye
.
The Way You Look Night
.
Heaven – Bryan Adams
Tags: akustik, latihan, musik, performance
Hari Minggu kemaren, 20 Maret 2011, gw dan beberapa temen (cuma 2 sih) pergi ke Red & White Lounge di Kemang buat nonton acara Mostly Jazz :
Sebelumnya, sebentar….. Beberapa orang yg kenal gw mungkin bertanya2, “Tumben bert? Ke kafe malem2 dan nonton jazz? Gimana ceritanya?”
.
Sebelum2nya gw emang udah ngincer (setelah lihat video2 di Youtube), mau nonton LLW pas mereka manggung. Tadinya mau ke Java Jazz Festival 2011, tapi ternyata bener2 ga sempet (bukan sok sibuk nih
). Beberapa kali mau coba dapetin free pass dari kuis di twitter, tapi entah telat baca soal, ga tau jawabannya, atau tau jawabannya telat banget *lemot*
Nah, pas sabtu kemaren tuh pertanyaannya begini :
Bukannya sombong, tapi untuk gw ini seperti dapet durian runtuh (eh tapi kan gw kurang suka duren ya…). Kebetulan gw suka dengerin Weather Report juga, dan Wayne Shorter (yang mendapat award ‘best soprano saxophonist’ di Jazztimes Reader’s Poll 2010) adalah salah satu pemain sax yg menginspirasi gw untuk menjajal soprano saxophone, selain Steve Lacy dan Bennie Maupin.
Namun, sepertinya bukan cuma gw yg menganggap ini pertanyaan yang relatif mudah. Di tweet berikutnya, mas Indra bilang yg jawab banyak banget he3. Apakah yg terjadi?
Sampai gw lingkarin dan panahin
Whoa! Berhasil dapet free pass! Potong kambing! Eh, tapi gw ga doyan kambing….
.
Rintangan untuk gw selanjutnya adalah : gw ga ngerti daerah Kemang. Yeah, you may call me “kurang gaul”. Modal gw adalah catat alamat & no. telp (yg ga selalu diangkat juga pas gw telponin.. Mungkin terlalu terpesona dengan performance-nya?), dan ajakin temen baik gw (thanks ya @Ramon_sampoel), yg juga ajakin temennya lagi yg katanya tau daerah Kemang.
Upaya pencarian tempat berlangsung dengan penuh perjuangan, bahkan ga sadar kami udah lewatin Red & White Lounge 2 kali! Dan hampir kelewatan untuk ketiga kalinya (O ya, sampe di sana jam 10. great…). IMO papannya termasuk kecil dibanding toko2/restoran2 di sekitarnya, dan tempatnya agak masuk ke dalem gitu. Letaknya di seberang tempat makan Dim Sum yg 24 jam (ini peringatan2 bagi yg pertama kali mau dateng ke sana). Satu hal lagi, temennya si Ramon di jalan sempet tanya :
“Eh, lo uda reserve tempat belom?”
Gw : “Hmm…. Belom..” (dengan wajah polos)
“HAAaa… Gw pikir udah. Rame banget loh kata temen gw.”
Sebelum masuk, gw cek guest list, dan bener ada acc twitter gw di sana. Temen2 gw yg lain bayar masing2 50rb. Dikasih first drink dengan pilihan bir, cola, atau orange juice. BTW orange juicenya enak lho
Temennya Ramon bener. Di dalem rame banget. Kami, seperti kebanyakan yg lain, nonton berdiri tapi tetep semangat.
.
Waktu gw dateng, lagi setengah jalan lagu apa gitu (kurang gaul nih he3), setelah itu lagu “Bulan Di Atas Asia” (salah satu performance favorit gw malam ini). Selain itu, gw memfavoritkan “Giant Steps” (OMG, solonya Sandy Winarta!) dan “Love, Life, and Wisdom” (love the vibe, gw jadi inget album Future 2 Future-nya Herbie Hancock).
Secara keseluruhan, gw merasakan sesuatu yg beda dibanding cuma nonton video2 di internet ato dengerin audio. Dengan menonton langsung, gw bisa ngerasain langsung big passion yang disebar melalui permainan trio LLW ini. Terasa banget, bagaimana setiap improvisasi mengalir seperti orang yang bercerita dengan bersemangat, bukan seperti orang yang sedang mencari jalan, yang sesekali curi-curi pandang ke peta atau GPS. Gw rasa ini salah satu pelajaran penting yg gw dapet kemaren, selain terus menajamkan skill. It’s not just about how to serve the song, but -more important- how to serve the music.
Indra Lesmana memainkan 1 piano, 2 synth, 1 rhodes, dan 1 melodika (mas Indra, seperti yg pernah gw ceritain di post yg dulu, adalah salah satu org yg menginspirasi gw untuk mainin melodika).
Barry Likumahuwa mainin 3 bass (4 senar, 5 senar, dan upright) dengan berbagai pedal efek. Sadis.
Sandy Winarta mainin drum dengan… gw bingung gmn komennya. Cuma bisa speechless, can’t stop clapping, & four thumbs up!
Penampilan trio ini juga dimeriahkan sama Indra Aziz, Dira Sugandi (yg sempet ngalamin masalah mic
tp stay cool), Kyriz, dan DJ Cream. Mereka semua perform sampe jam 11. Setelah itu ada break dan lanjutnya jam session. Gw dan temen2 ga (atau belum? mungkin another time…) ikut nonton/main di jam session-nya.
.
Behind the scene #1 : Di mobil, dalam perjalanan ke sana, Ramon sempet ajakin gw nge-jam di sana. FYI, dia drummer & singer. Gw bilang, “Beneran? Ayo.. Tapi kayaknya sih mendingan liat2 dulu deh di sana kyk gimana..” Dan bener kita saking amazed-nya dengan atmosfir jazz di sana, sampai (gw ga tau pikiran dia, tp gw sih) rada jiper ha3. Tapi gpp, pikiran dan wawasan kan jadi lebih terbuka. Ini menyuntikkan inspirasi, semangat untuk latihan dan terus mau maju.
Behind the scene #2 : hari ini, ada tweet di akun LLW :
Best one so far? Tambah seneng lagi bisa datang kemaren
.
Hmmm… Jadi ga sabar tungguin kuis berikutnya lagi.
Tags: indra lesmana, LLW, mostly jazz, red & white lounge