Lanjuuut…
#3 – Lama ga sih belajar saxophone ?
Ini dipengaruhi oleh poin 1 di post sebelumnya (“susah ga sih main saxophone?”).
Gw memulainya dengan dasar keyboard. Lalu cari guru buat konsultasi, belum mulai les. Trus cari alat. Trus di rumah mulai coba2 sendiri (dengan sedikit modal dari konsultasi tadi), tiupnya dan fingeringnya. Beberapa bulan kemudian barulah gw kembali ke guru yg sama & les selama 3 bulan… “Keluar” dari situ, cari2 materi sendiri : buku & internet. These days semakin gampang mencari informasi tentang sax di internet.
So, menurut gw, kalau belajar diartikan sebagai les, mungkin tidak sampai setahun sudah bisa “up and running” atau “on stage”. Namun, tentunya tahap yang sangat penting adalah semangat untuk terus belajar setelah uda ga les lagi..
O ya, kenapa les? Untuk membentuk good habit. Untuk membantu meluruskan hal2 yang kita kurang paham atau salah artiin ketika belajar sendiri..
#4 – Latihannya gimana? Berisik ga, ganggu tetangga?
Well, to tell you the truth, I never asked my neighbour’s opinion hahaha…
Tapi memang sih, latihan saxophone bisa kedengeran lebih annoying dibandingkan latihan piano atau gitar. Apalagi kalo pas awal2 belajar, masih banyak fals, squeaking… dan lain-lain. Sebaiknya jangan dimainkan di tengah malam (disesuaikan dengan kondisi rumah dan lingkungan masing-masing).
Untuk latihannya, mungkin diperlukan cukup kesabaran. Kenapa? Pertama, kalo blom lancar niupnya mesti diusahakan dulu sampe kita bisa mengeluarkan nada kapanpun kita mau (kalo awal2 kan biasanya tiup… trus sekian detik baru keluar perlahan2 notnya). Kedua, kita hanya memainkan melodi di sini, tidak seperti piano yang bisa memainkan chord, harmoni, dan teknik2 lainnya juga. Ketiga, mungkin latihan sax bisa lebih capek lho dari latihan piano. Gw biasanya lebih gampang keringetan kalo lat sax dibanding lat keyboard. Keempat, terutama kalo awal-awal belajar teknik niup dan pernapasannya, beberapa saat setelah latihan mungkin bakal berasa light-headed atau pusing karena kontrol aliran udara yg kurang baik sehingga tidak lancar sampe ke otak.
Biar ga terlalu bosenin : coba cari file MIDI (mis yg gratisan
) dari internet untuk play-along. Tergantung dari yang bikin file MIDInya, dengan software untuk mengedit MIDI bisa diutak-atik sedikit untuk menjadi semacam minus one… Tapi tentu aja latihan lagu berbeda dengan latihan teknik. You need both of them!
Apa yang dilatih setiap hari? Banyaaaak… tapi kalo waktu tipis, at least long notes (untuk meningkatkan kualitas tone dan pernapasan), beberapa tangga nada dan trinada (mis dari 2-4 macam nada dasar).
#5 – Nafasnya susah/berat ga sih? Mesti olahraga khusus kayak renang, lari, yoga, tai chi, dll?
Jangan ketawain gw, tapi gw uda brp kali ditanya ginian he3…
Logika sederhana yg bener juga sih : makin gede alatnya makin berat niupnya. Jadi jenis saxophone dari yang paling enteng niupnya adalah : sopran, alto, tenor, bariton (ini 4 sax paling umum). Namun, perlu diingat, kemudahan pitch controlnya berbanding TERBALIK. Dari urutan tadi, sopran yang paling susah. So, biasanya UNTUK YANG BARU BELAJAR disarankan pilih alto / tenor. Tapi paling sering sih alto.
Kalau kita bicara berat niupnya… Seberat apa? Karena yang ga kalah penting di sini adalah teknik. Tiup sekuat tenagapun belum tentu bunyi lho. Dengan mmemahami teknik yang baik, sebenarnya tidak terlalu berat. Bahkan, kalo gw, sekian lama tiup saxophone, terus seumur2 baru coba pianika.. Eh pianika terasa lebih berat loh! Sebenarnya teknik yang lebih memegang peranan. Kalo yg katanya salah teknik bisa ‘turun bero’, nah itu gw sh kurang tau deh…
Gw sendiri orangnya jarang olahraga kok
tapi tetep bisa kuat tiup juga. No magical tricks lah…
Intinya, jangan takutlah… Cewe2 misnya ga perlu takut kalah kuat tiup sax sama cowo. Banyak loh pemain sax cewe yang mainnya luar biasa juga, kayak Candy Dulfer dan Kaori Kobayashi (intermezzo: saking bekennya, kalo search di youtube, baru ketik ‘kaori’ aja di bawahnya udah nongol ‘kaori kobayashi’).