What’s Next?

13 Aug

Sebagai musisi, pada tahap tertentu kita biasanya akan mulai memikirkan “next step”. Misalnya, dalam alat yang kita gunakan, berhubungan dengan apa yang ingin dicapai selanjutnya.

Contoh :

si A, pemain gitar akustik yang terpikir untuk mencoba gitar listrik.

B, pemain piano yang tertarik untuk menjelajahi suara keyboard lain (Rhodes, Wurlitzer, organ), atau synthesizers.

C, pemain drum yang ingin menjajal perkusi atau tertarik menambah electronic drum pad ke drumsetnya.

D, pemain bas yang tertantang untuk menambahkan efek khusus ke setup chain-nya. Misalnya chorus, distorsi, atau wah-wah.

.

.

Bagaimana dengan pemain saxophone…….? Ada beberapa kemungkinan, misalnya :

1. “Doubling” dengan instrumen tiup lain, seperti flute, klarinet, oboe, piccolo, trumpet… Yang umum dijumpai adalah doubling dengan sesama keluarga woodwinds. Doubling dengan melodica/pianica? Asik juga…

2. Memainkan anggota keluarga lain dari saxophone. Misalnya dari alto ke soprano, tenor ke alto, dsb.

3. Mencoba EWI (Electronic Wind Instrument), alat musik tiup yang menggunakan listrik, yg secara umum digunakan sebagai controller untuk suatu sound module (AKAI jg menanamkan modul synthesizer di EWI mereka, sementara Yamaha benar2 berfungsi sebagai controller).

.

Gw sendiri, dengan berbagai pertimbangan, akan memilih nomor 2 (nomor 1 sudah dijalani, dengan melodica, seperti yg bisa dibaca pada beberapa post sebelumnya).

Sempat tertarik dengan EWI (apalagi di Indo sepertinya agak jarang), tetapi dengan berbagai pertimbangan (apalagi harganya jauh lebih murah daripada saxophone sopran :P), untuk saat ini gw lebih memilih saxophone sopran.

Sebenarnya, hal-hal apa saja yang perlu dipikirkan growing musicians ketika merasa sudah waktunya untuk “melangkah lebih jauh” dengan instrumen lain yg msh sekeluarga dengan instrumen pertamanya?

.

1. Kemampuan di instrumen saat ini

Walaupun tidak selalu (ada teman yg baru mulai alto bbrp bulan, langsung pindah ke jenis lain), tetapi secara umum lebih safe ketika kita bergerak maju setelah memiliki dasar yg baik pada instrumen saat ini, at least an intermediate. “Jack of all trades” bisa menjadi keuntungan dan kelemahan di sisi lain.

2. Benar-benar pindah?

Misalnya pemain gitar akustik klasik menjajal gitar listrik. Ke depannya, dia dapat memutuskan apakah akan lebih “dominan” dengan permainan gitar akustik atau beralih ke gitar listrik? Ga ada yg pasti lebih baik (juga untuk saxophone), tapi yg lebih kreatif adalah aplikasi yang situasional. Kapan memainkan alat A atau B, sesuai kebutuhan.

3. Budget

Klasik… Uda pada ngerti lah he3.. Dari piano klasik ingin mencoba synthesizer, dan langsung membidik Yamaha seri MOTIF. Sesuai keyakinan masing-masing sih, tapi sebaiknya be wise on budget. Cari produk alternatif jika mungkin.

4. Kurva Pembelajaran / Learning Curve

Cari info sebanyak2nya mengenai learning curve alat tsb pada umumnya. Misalnya jika kebanyakan orang mengatakan ini sesuatu yg sulit, hitunglah kira2 dengan kemampuan saat ini, perlu waktu berapa lama untuk kita menguasainya? Jika relatif membutuhkan waktu lama dan kita tetap ingin mencobanya, lebih baik mulai lebih awal.

5. Jika Tidak / Kurang Berhasil…

Pertimbangan nomor 5 ini merupakan kombinasi dari poin 3 dan 4. Kita juga memerlukan pertimbangan seandainya *amit2* kita tidak/kurang berhasil dengan alat ini, seberapakah kita akan merasa “rugi”? Bukan bermaksud negative thinking, tapi kemungkinannya adalah ini akan “memerkaya” pengetahuan kita (bahasa halus untuk “unable yet to master it”) atau “huge loss” (benar2 unbearable, & mungkin ingin sampai ingin dijual lagi?).  Misalnya dalam kasus pianis tadi, dia benar2 ga mudeng dgn synth anyar tadi, dan ingin jual lagi?? Brarti poin 1 juga berpengaruh di sini, sebaiknya kita melangkah ketika yakin peluang terjadinya “kerugian” sangat kecil.

6. Satu Hal lagi

Supaya lebih mantap, baca juga post “It’s Between Those Gears and Me”, yg intinya kita perlu memerhatikan hubungan antara minat kita dengan ekspetasi dari market. Ini kenyataan, dan kadang memang bisa menyakitkan / kurang nyaman, tapi ini tantangan untuk survive dalam karir di bidang musik.

One Response to “What’s Next?”

Trackbacks/Pingbacks

  1. Best Posts of 2010 « "CERITA-CERITA…" by Robert Reginald - December 25, 2010

    […] 8. What’s Next? […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: