Basic Home Recording (Audio)

14 Jun

Beberapa hari lalu, seorang teman (keyboardist juga) mention gw di tweetnya dan menanyakan mengenai home recording (awalnya malah ada nyerempet tentang audio engineering juga – bidang yg lebih memusingkan lg buat gw he3) :

Ok, di post kali ini gw bakal coba jelasin… mungkin dalam beberapa waktu setelah gw publish post ini, bisa gw edit lagi beberapa kali, tergantung dengan komunikasi2 gw selanjutnya dgn temen gw ini.

————–

“Sesuatu” yang ingin direkam

Pada dasarnya, ada 2 hal yang bisa atau ingin direkam :

a.) data audio –> gelombang suara

b.) data MIDI (Musical Instruments Digital Interface)  –> command / instruksi musik

Nah, 2 hal ini kita ‘bedah’ dalam format input-proses-output yah….

.

O ya home recording yg dibahas di sini adalah yg menggunakan komputer ya (contoh2 akan dalam konteks OS Windows)

.

AUDIO

Input :

– Jenis : suara, baik vokal maupun instrumen yg dimainkan langsung seperti keyboard, gitar, bas, drum…

– Hardware :  Mic , instrumen elektronik (spt keyboard, gitar listrik)

Proses :

– Hardware : audio interface

Mengenai audio interface…. ada jg yg bilang istilahnya converter (karena mengonversikan sinyal audio yg analog menjadi digital – dimasukkan ke komputer berarti digital), atau ada yg bilang soundcard eksternal/tambahan (karena dengan alat ini, beban kerja proses audio tidak dibebankan ke soundcard internal/bawaan tapi ke alat ini. Ini meringankan kerja komputer dan juga meningkatkan kualitas rekaman).

Untuk koneksi dengan komputer, umumnya melalui USB, firewire, atau PCI.

– Software : audio driver, software rekaman

Audio driver software inilah yg membaca dan mengoptimalkan kerja audio interface kita. Optimal itu maksudnya, kita bisa menyesuaikan setting agar sesuai performa komputer kita…

Jadi lebih simple-nya begini :

Tampilan driver ASIO4ALL 2.10 Beta 1

Nah di kiri atas itu ada “Realtek….” dan di bawahnya “USB Audio Codec”. Itu list soundcard yg terhubung dengan komputer. Di situ yg diaktifkan adalah yg USB Audio. Tampilan di atas biasa bisa dilihat di audio settings di berbagai software rekaman.

Di bagian bawah ada “ASIO Buffer Size”. Semakin besar buffer size, semakin besar latency (keterlambatan) audio. Misalnya ketika akan merekam audio, jadi suara yg masuk baru terekam sepersekian detik setelahnya / lebih terlambat gitu. Kalau mainin software instrumen musik dengan controller keyboard, maka sound-nya akan kedengeran agak terlambat. Dalam hal ini, komputer bekerja lebih ringan.

Sebaliknya, semakin kecil buffer size, latency semakin kecil. Tapi kita belum tentu bisa langsung “habisin” slider ke kiri pol, karena belum tentu komputer kita”kuat”. Akibatnya, suara jadi terdengar pecah2/putus2, atau malah software bisa jadi not responding ato crash lho. Jadi, cari setting ‘damai’nya : suara cukup ok/stabil, latency masih tolerable.

.

Selanjutnya, software rekaman. Sekarang ini, kebanyakan yang dipakai adalah yg berupa DAW (Digital Audio Workstation), misalnya Cubase, Nuendo, Sonar, Pro Tools. Disebut DAW karena fitur di software ini sudah komplit : rekaman dan editing audio dan MIDI, mixing, dll.

Output : File audio (WAV, MP3, dll…)

Biasanya untuk audio yg akan di-edit lagi, sebaiknya menggunakan format WAV karena ini adalah format yg uncompressed (makanya sizenya gede banget), kualitas terbaik/asli dari rekaman kita.

– Hardware : Speaker monitor, headphone

Dalam memilih speaker (juga headphone), 2 hal penting yang perlu diperhatikan : power dan respon frekuensi.

Power  –> kekuatan speaker untuk merepro suara. Biasanya lebih kuat dianggap lebih baik, tapi perlu diperhatikan juga ukuran dan kondisi akustik ruangan studio. Kalau terlalu kuat juga kurang baik untuk persepsi audio kita.

Resp0n frekuensi –> kemampuan merepro suara dalam berbagai tingkatan frekuensi (treble, middle, bass). Usahakan pilih yg lebih mendekati NETRAL. Tidak terlalu nge-bass, tidak terlalu treble, tidak terlalu middle. Kenapa? Kalau yg terlalu nge-bass, kita akan cenderung mengurangi bass ketika mixing (malah jadi cempreng kan), kalau terlalu treble, kita tergoda untuk naikkan bass (malah jadi terlalu nge-bass). Intinya, kita perlu persepsi yg netral, supaya bisa menilai dan me-mix audio dengan lebih baik.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: