Your Life Book and Sense of Direction

5 Jul

Beberapa waktu belakangan ini saya dipertemukan dengan beragam teman2 baru dari berbagai profesi, dan juga teman2 lama. Macam2 cerita, macam2 inspirasi. Dari semuanya, saya jadi terdorong untuk menulis post ini, dan juga lanjut update beberapa (atau… banyak) bagian dari blog ini.

.

.

Buku dan Cerita Hidup

Menurut saya, hidup itu seperti menuliskan cerita di buku, yang kita tidak tahu kapan akan kehabisan kertasnya. Ada orang2 yang memilih untuk membuang atau membakar bukunya, tapi bagaimanapun alasannya, itu bukan pilihan yang bijaksana, karena sebenarnya buku itu bukan milik kita, hanya dipinjamkan untuk ditulisi dengan baik.

Meskipun begitu, namanya manusia… Kita pasti pernah salah tulis di dalamnya. Ada yang ketika salah langsung dicoret2, ada yang cukup digarisi melintang, ada yang diberi kurung dan silang2, ada yang pakai tipp-ex, dilabeli, dan lain-lain. Space di kertas jadi berkurang, tapi masih ada kesempatan untuk lanjut menulis.

Sering dengar istilah “move on”, “buka cerita/lembaran baru”, “awali lagi”. Saya setuju, ada awal dan akhir. Meskipun begitu, sepertinya kurang bijak untuk segera merobek dan membuang lembaran2 sebelumnya, lalu menulis suatu cerita yg benar2 beda. Hal2 yang di belakang tetap berguna dalam membangun keutuhan cerita hidup kita. Di dalamnya mungkin ada hal2 yang akan kita syukuri dan sesali, semuanya berguna seperti kaca spion di kendaraan. Tetap bergerak maju, sambil membandingkan posisi saat ini dengan apa yang ada di belakang kita.

Dalam menulis, kita juga melihat hubungan2 antar bab, antar cerita2 di dalamnya. Pernahkah kita membaca suatu buku, atau nonton film, yang bagian awalnya seru dan/atau menarik, tetapi akhirnya tanggung, membingungkan, atau antiklimaks? Sebaliknya, bagaimana dengan yang awalnya terasa membosankan, terlalu lambat, terlalu berputar atau bercabang, tapi diakhiri dengan bagus?

Akan sulit untuk melihat hubungan2 antar cerita, kalau kita terlalu sering membuang halaman2 yang lama. Kita jadi terlalu yakin sudah terus bergerak maju, padahal tidak tahu dari mana ke mana kita berpindah.

.

.

Kepekaan Akan Arah

Ketika mau pergi ke suatu tujuan, tentunya kita perlu mengetahui dari mana titik awal kita, selama perjalanan akan melewati patokan2 apa, dan tujuan kita di mana. Kalau ada hal2 tidak terduga, seperti jalan atau lajur yg ditutup, kecelakaan lalulintas, patokan2 yg sudah berubah, dan lain-lain, kita perlu re-routing, seperti di aplikasi2 peta pada umumnya.

Dalam perjalanan, selain membaca peta, kita juga perhatikan papan2 penunjuk arah, bahkan kadang bertanya ke orang2 sekitar, untuk memastikan arah. Bagaimanapun juga, yang paling nyata adalah yang kita hadapi di jalan, bukan sekadar gambar dan tulisan yang kita pegang sendiri. Saya pernah diantar seorang sopir yang ketika saya anjurkan untuk lihat Google Maps, dia bilang,”Ah, itu sih ngaco. Saya TIDAK PERNAH SALAH.” Wah, luar biasa. Tidak sampai 20 menit kemudian dia salah ambil jalan (katanya alternatif tidak lewat tol, tapi ternyata masuk tol juga).

Mungkin, ada kalanya kita tersesat, atau disesatkan. Seandainya tidak memungkinkan untuk melihat peta, kita perlu mengingat titik awal (di mana kita tersesat), mencari patokan2, menghubungkannya sampai ke tempat yang cukup familiar.

Kadang, kita juga ingin berjalan bebas, berkeliling sampai menemukan hal2 yang inspiratif. Meskipun terkesan “bebas”, tentunya kita juga perhatikan petunjuk2 jalan, rambu2, lampu lalulintas. Kemudian, ada saatnya kita akan re-routing, ke tujuan yg akhirnya dipilih. Tetap memiliki kepekaan arah.

Begitu juga dengan hidup, dan bermusik. Awal, patokan, aturan, petunjuk, re-routing, akhir. Kita tentunya tidak memulai perjalanan dengan tujuan yang “semoga”. “Mau ke mana, Pak?” “Yaaa semoga saya sampe di Cilandak deh.”

Ada saatnya bergerak maju, belok, berpindah lajur, berhenti, mundur, putarbalik. Semuanya tentu dengan visi, tujuan.

.

.

.

Banyak masalah dalam hidup muncul atau jadi semakin parah ketika kita merasa memiliki buku hidup kita (dan orang lain) dan/atau merasa sebagai yang punya jalanan dan aturannya. Menurut saya, yang kita miliki adalah CERITA dan PERJALANAN hidup. BUKU dan JALANAN/LALULINTAS bukan hak milik kita.

Terus berjuang, semoga cerita dan perjalanan kita baik adanya. Mungkin tidak selalu mulus, tapi baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: