Archive | Lesson RSS feed for this section

Essential Sax Accessories and A Little Note About Brands

29 Oct

Cukup lama juga gw belum post artikel2 baru lagi di sini…

Beberapa waktu lalu, ada yang bertanya beberapa hal tentang saxophone lewat e-mail. Setelah mengirimkan balasan, gw baru sadar kalo apa yg gw kirim itu ternyata lebih mirip blog post ya… Jadi gw masukkan juga ke blog ini:

 

“Halo mas robert, kenalin saya XYZ dari Palembang, umur saya sekarang 18th masuk 19th, saya sekarang ingin belajar saxophone namun disini sangat jarang sekali yang bisa memainkannya, sampai kursus nya pun tak ada, jadi saya memutuskan untuk belajar sendiri sembari menunggu guru, dan sebaiknya menurut anda apa saja aksesoris yang diperlukan untuk pemula? Dan apakah merk sebuah saxophone mempengaruhi kualitas?
Terima kasih atas waktunya.”

 

Jawab:

Halo.. sorry baru balas sekarang 🙂 Oow, teman2 yg pmain saxo kayaknya banyaknya di Medan ya hehehe tapi secara umum memang trend saxo sedang cukup meningkat di banyak daerah, semoga ga lama lagi makin rame juga di Palembang.

Untuk aksesoris, beberapa yg penting:

Mouthpiece

Biasanya, mouthpiece bawaan dari saxo, sudah cukup baik untuk belajar. Tapi, biasanya yg bawaan dari saxo taiwan atau china, kualitasnya kurang konsisten. Umumnya, banyak yg merekomendasikan mouthpiece Yamaha (4C atau 5C) atau Rico (A3 atau A5) untuk belajar.

Ligature

Pengikat reed di mouthpiece, biasanya yg bawaan dari saxonya sudah cukup baik. Kalaupun rusak dan sulit dibetulkan atau dicari gantinya, bisa dibuat sendiri dengan pengikat2 kabel atau velcro.

Reed
Sebaiknya siapkan lebih dari satu reed, misalnya 3-5pcs reed. Pemakaiannya dirotasi setiap latihan (bukan dipakai “satu sampai habis”), supaya lebih awet. Lebih bagus lagi kalau reed dilabel/dinomori supaya ingat urutan rotasinya. Biasanya utk awal belajar, pakai ukuran reed 2 atau 2.5. Nantinya, ukuran ini disesuaikan juga dengan ukuran mouthpiece, selera suara, dan kenyamanan mainnya (bukan berarti mesti “kejar nomor ukuran” seberat2nya hehehe).

Cork grease

Semacam minyak untuk melicinkan gabus di neck, supaya lebih mudah masukkin mouthpiece. Bisa juga dipakai di ujung neck, kalau neck agak sulit dimasukkan ke body. Selain cork grease merek2 tertentu seperti Rico, bisa juga pakai semacam Vaseline.

Kain / sikat pembersih

bisa pakai pad saver (semacam kemoceng) atau cleaning swab (kain yg diikat tali ujungnya, bisa juga dibuat sendiri). Cleaning swab umumnya lebih optimal utk bersihin bag dalam saxo, tapi pad saver lebih praktis dipakenya hehehe. Ada juga sikat untuk mouthpiece, dan sikat utk neck. Kalau sulit carinya, cukup cari sikat neck aja, bisa dipake utk mouthpiece juga.

Strap

Setiap latihan / perform, terutama kalau main alto atau tenor, selalu pakai strap. Pastikan setel panjangnya yang nyaman, cukup membagi beban dengan pundak/leher kita, jadi jempol kanan lebih utamanya utk mengarahkan alat ke kita, bukan menahan beban. Leher juga jangan sampai terlalu turun.

Ada aksesoris2 lain yg membantu juga, seperti powder paper untuk membersihkan pads yg lengket, supaya lebih lancar buka tutupnya, mouthpiece patch/cushion untuk melindungi bagian atas mouthpiece dan agak meredam getaran gigi ketika main (posisi mulut jadi lebih stabil, tidak terlalu licin), dll.

Merek saxophone menentukan kualitas? Ada benarnya, misalnya merek Selmer, Yamaha, Yanagisawa, Keilwerth, Conn… ada merek2 seperti yang memang sudah terkenal lama dgn produksi sax yg bagus2. Tapi, ada juga merek2 buatan Taiwan/China/Vietnam yg kualitasnya cukup ok untuk belajar (perbandingan harga dengan kualitasnya), seperti Zeff France, Maxtone, Hermes,dll.. Yang penting, kondisi saxnya sehat.
Memang, student sax buatan Taiwan atau China ada juga yg kualitas produksinya kurang konsisten, kadang ditemukan satu atau dua kekurangan pada barang barunya. Tapi dengan diservis sedikit, siap untuk latihan dan manggung lagi. Ada juga pedagang2 sax yg juga teknisi, jadi ketika barang datang, sudah mereka cek dan servis. Kalau saya, biasanya sax yang mau saya jual, kalau saya rasa ada yg kurang enak, dibawa servis ke pak Jimbot (teknisi senior di Jakarta, sering menangani saxo pemain2 senior).
Jadi, merek bisa menentukan kualitas, tapi ada juga merek2 yg mungkin ga terlalu terkenal, tapi kualitasnya bisa di atas harganya 🙂
_________
Pertanyaan di atas termasuk cukup umum, dan beberapa jawaban dan penjelasannya seinget gw ada di beberapa post gw dulu. Tapi gw tetep post ini, utk refresh aja. Dan untuk menyemangati gw, lebih banyak menulis lagi :p

Simple Home Recording: Covering “Happy” (Pharrell Williams) and “Close To You” (Carpenters)

13 Jun

Kemarin, di studio rumah, gua dan beberapa teman melakukan rekaman sederhana. Setelah beberapa hari sebelumnya dapet info bakal pakai instrumen apa aja, gua mulai menyusun rencana posisi alat2 dan penggunaan kabel2.

Melihat jumlah instrumen… Sebenernya agak “kekurangan” mic dan kabel :p seinget gua, belum pernah lakuin live recording di sini dengan format seperti ini. Berikut ini yg direkam berbarengan:

  • Vocal
  • Keyboard
  • Bass
  • Accoustic guitar
  • Cajon

Sedangkan, yg direkam belakangan adalah saxophone dan sounds tambahan dari iphone.

Yamaha MW8CX, TC Electronic Desktop Konnekt 6, Macbook

Yamaha MW8CX, TC Electronic Desktop Konnekt 6, Macbook

Peralatan rekaman yg dipakai, adalah TC Electronic Desktop Konnekt 6, Firewire audio interface yang tersambung ke Macbook. Interface ini maksimum merekam langsung 2 channels. Jadi gua pisah, yg pertama untuk vocal, yg kedua untuk instrumen lainnya (yg dihubungkan ke mixer Yamaha MW8CX).

Untuk Mic, yg gua punya:

  • AKG D7 – untuk vocal (live dan dub) dan sax (dub)
  • Shure SM 58 – untuk amp miking (ke Roland KC-150, yg dipakai sebagai ampli bass)
  • Superlux (lupa tipenya) – condenser, untuk gitar akustik. Mic disambung ke Behringer Mic100 preamp
  • Nady MH-16 – clip-on, wireless, untuk cajon
  • Samson (lupa tipenya) – condenser, clip-on kabel…. ini ga dipakai :p

 

Acc guitar miking - Superlux mic, with Behringer Mic100 preamp on the floor.

Acc guitar miking – Superlux mic, with Behringer Mic100 preamp on the floor.

Kenapa SM58 untuk todong ampli, dan KC-150 untuk ampli bass?

Awalnya, gua kepikir untuk pakai Superlux untuk todong ampli, AKG D7 untuk todong gitar, SM58 untuk vocal. Tapi setelah gua tes sendiri, ternyata untuk suara gitar yg “lebih”, gua bakal butuh superlux dan preamp Behringer, karena menurut gua preamp dari mixer Yamaha kurang kuat mengangkat gain gitar. Sementara, bass kayaknya bakal lumayan kenceng hehehe. Pakai ampli KC-150 karena…. Gua belum punya ampli bass. O ya, gua merekam bass dengan cara seperti ini karena kondisi instalasi listrik di rumah gua. Kalau Bass langsung ke mixer, bakal nyetrum…

cajon miking

cajon miking

Kenapa  mic wireless clip-on untuk cajon? Dan rasanya pakai Samson lebih nendang deh…

Tadinya mau pakai Samson, tapi karena butuh phantom power sedangkan preamp Behringer gua cuma ada 1, jadi gua pake yg wireless ini. Memang sih, gua jadi ngerasa cajon adalah instrumen yg paling jadi “korban” di sesi rekaman kali ini hahahah…

.

Intinya, gua mau lakuin rekaman kali ini secara live untuk menghemat waktu, tapi memang membutuhkan persiapan peralatan yg ekstra. Berikut ini hasilnya, yang direkam dan di-mix sederhana dengan Cubase 6:

.

.

Info tambahan mengenai peralatan:

Bass: Yamaha BB 414

Keyboard: Casio CDP-200R (sound piano dan EP, dari sini)

Iphone app: Garageband

Saxophones: Monique tenor sax (Rico Metalite M7 mouthpiece & Rico 2.5 baritone sax reed), Zeff France curved soprano sax Drake Jazz 8 mouthpiece & Rico 2 reed)

Membuat Ligature Mouthpiece Saxophone

15 Aug

Ada beragam jenis ligature untuk mouthpiece, dari yg standard 2-screw berbahan kuningan atau plastik, 1-screw yang berbahan kain atau kulit, berbentuk seperti rantai yang bisa disesuaikan ukurannya, sampai yang seperti ring: langsung dimasukkan, tanpa sekrup.

Keisengan gw membuat ligature untuk dipakai sendiri, bermula dulu ketika masih memakai mouthpiece Beechler Custom metal 7 di alto. Waktu itu, gw membuatnya dengan pengikat selang gas. Meskipun bekerja dengan cukup baik, gw sendiri akhirnya memang kurang nyaman dengan mouthpiece ini (sekarang sudah dijual). Tahapan pembuatan ligature-nya juga belum konsisten atau pasti.

Seperti yang diceritakan di post gw sebelum ini, sekarang gw memakai mouthpiece R. Reginald Custom yang dibuat oleh JAWA Mouthpiece (Jogjakarta) di alto sax. Mouthpiece ini sangat baik, dibuat sesuai dengan request gw. Namun, masalahnya terletak di ligatur bawaannya. Gw sendiri lupa menjelaskan ke mereka bahwa gw pakai reed tenor sax untuk main alto. Ligatur dengan 1 sekrup yg dibuat terlalu pas, dan ukuran mouthpiece yg lebih gendut daripada mp alto HR/ebonit pada umumnya, membuat gw terpaksa menggunakan ligatur lain untuk mp ini. Inilah yang mendorong gw untuk mencoba membuat ligatur sendiri. Jenis yg gw pilih adalah ring ligature. Kenapa? Karena……………. lebih gampang bikinnya :’) jujur, gw ga jago prakarya. Semua ini hanyalah karena penasaran semata.

Image

Bahan-bahan:

– Nylon cable ties (pengikat kabel)

– Duct tape  (lakban)

– Pita (optional – bisa menggunakan yg lain, setelah mengerti tahap2 di bawah)

– Karet gelang

– Gunting

Kenapa di foto ada banyak benda2 lain? Ehmmm… itu ternyata tidak terpakai :p hehehe…

Tahapan:

1. Ambil mouthpiece yg akan dibuatkan ring ligature (kemungkinan hasil jadi di satu mouthpiece, tidak/kurang cocok dipakai di mouthpiece lain), posisikan reed di mp. Sekali lagi, karena gw biasa main alto dengan reed tenor, jadi di sini gw pakai reed tenor.

2. Ikat dengan pengikat kabel, satu-persatu.

Image

Image

Setelah diikat dengan 2 atau 3 pengikat, seperti di gambar, sebenarnya setup ini sudah cukup enak untuk dimainkan (coba saja). Sayangnya, cara mengikat di atas ini masih kurang baik. Iya, sorry kalau terkesan menjerumuskan….

Kalau kita ikat sampai pas (mentok dengan reed) seperti di gambar, maka nanti ketika semua rangkaian ini disambungkan, mungkin bisa ditarik keluar (dengan paksa), tapi tidak bisa dimasukkan kembali alias kekecilan. Perhitungkan ukuran pengikat rangkaian ligatur (pita) yang turut menambah ketebalan ligatur ke dalam. Jadi, mari kita ulang lagi:

ImageDi sini, gw memberi jarak dengan reed secara bertingkat, mengikuti bentuk body mouthpiece ini yg membesar ke bawah. Untuk mouthpiece yang bentuknya lurus, jarak dengan reed bisa disamakan.

3. Rekatkan rangkaian pengikat2 ini dengan lakban. Gw menempelkannya di depan, di sekitar area logo mouthpiece. Yang penting, semuanya menempel.

4. Tarik ligatur keluar dengan hati-hati, kemudian potong/rapikan sisa panjang pengikat2 kabel.

5. Rekatkan sekali lagi area yg tadi sudah dilakban, kali ini lakban dari bagian dalam. Jadi ditempel dari 2 sisi.

6. Ikat area yang sudah dilakban, dengan tali pita. Tujuannya untuk menguatkan lagi ikatan rangkaian ini, menutupi tempelan lakban, menjadi bantalan tambahan yang turut menguatkan ikatan ligature terhadap reed (JANGAN tambahkan lakban di dalam untuk bantalan, karena akan meninggalkan jejak-jejak lem ketika dipakai. Tambahkan saja ikatan pita.), dan menambah cantik 😉 *halaaaah*

Image

Jadi! “Lho, kok hasilnya dipakai di mp JAWA? Bukan di Selmer SD20 tadi?” Ya, kebetulan ternyata bisa muat juga :p ….Nah, hasil ikatan pita di tengahnya seperti itu. Gw yakin, temen2 bisa bikin lebih rapi :’)

Hasil dari ligature yang bentuknya kalau gw amati mirip2 dengan Rovner Star ini, menurut gw karakter suaranya cukup dark, dengan respon yg tetap baik, tidak terlalu  tertahan-tahan. Ini opini gw.

…..

Sudah selesai? Belum, gw masih penasaran dengan kesalahan gw di awal tadi. Gw rasakan, dengan posisi antar pengikat yang lebih berjarak dan lebih sedikit, hasil suaranya louder, brighter, dan responnya lebih enteng lagi. Dan mulailah gw mencoba membuat satu lagi, yang modelnya seperti ini.

Tahapan:

1. Ambil mouthpiece. Letakkan 1 pengikat secara vertikal, sebagai rangka di tengah depan mouthpiece. Ikat sedikit bagian bawahnya dengan karet gelang, untuk sekadar menahannya.

Image2. Posisikan reed di mp seperti tadi, ikat dengan pengikat (dengan berjarak dengan reed), kali ini 2 pengikat saja, atas dan bawah.

3. Rekatkan rangka dengan 2 pengikat ini, dengan lakban.

Image

4. Tarik keluar ligatur dengan (lebih) hati-hati. Rangkaian ini lebih “rentan” dibanding yang pertama tadi. Rekatkan rangka bagian dalam dengan lakban.

Image

5. Potong/rapikan sisa panjang pengikat kabel, ikat bagian rangka dengan tali pita. Hati-hati, jangan sampai miring sebelah. Jarak antar pengikat mungkin akan sedikit berkurang, tidak apa-apa.

Image

Kedua jenis ligature siap digunakan! 😀 Masing2 karakternya berbeda. Seperti perkiraan gw, yg 2-ring lebih bright, loud, dan responnya lebih enteng.

Dengan berbagi tips ini, gw tidak bermaksud mengatakan bahwa ligature ini pasti lebih baik dari ligature yg umum dijual. Semuanya kembali ke kenyamanan dan selera masing-masing pemain, yang tentunya sangat subjektif. Ligature yg gw buat ini, bekerja dengan baik untuk gw (dan murah.. hahahah), belum tentu untuk orang lain. Tertarik mencoba?

Basic Home Recording (Audio)

14 Jun

Beberapa hari lalu, seorang teman (keyboardist juga) mention gw di tweetnya dan menanyakan mengenai home recording (awalnya malah ada nyerempet tentang audio engineering juga – bidang yg lebih memusingkan lg buat gw he3) :

Ok, di post kali ini gw bakal coba jelasin… mungkin dalam beberapa waktu setelah gw publish post ini, bisa gw edit lagi beberapa kali, tergantung dengan komunikasi2 gw selanjutnya dgn temen gw ini.

————–

“Sesuatu” yang ingin direkam

Pada dasarnya, ada 2 hal yang bisa atau ingin direkam :

a.) data audio –> gelombang suara

b.) data MIDI (Musical Instruments Digital Interface)  –> command / instruksi musik

Nah, 2 hal ini kita ‘bedah’ dalam format input-proses-output yah….

.

O ya home recording yg dibahas di sini adalah yg menggunakan komputer ya (contoh2 akan dalam konteks OS Windows)

.

AUDIO

Input :

– Jenis : suara, baik vokal maupun instrumen yg dimainkan langsung seperti keyboard, gitar, bas, drum…

– Hardware :  Mic , instrumen elektronik (spt keyboard, gitar listrik)

Proses :

– Hardware : audio interface

Mengenai audio interface…. ada jg yg bilang istilahnya converter (karena mengonversikan sinyal audio yg analog menjadi digital – dimasukkan ke komputer berarti digital), atau ada yg bilang soundcard eksternal/tambahan (karena dengan alat ini, beban kerja proses audio tidak dibebankan ke soundcard internal/bawaan tapi ke alat ini. Ini meringankan kerja komputer dan juga meningkatkan kualitas rekaman).

Untuk koneksi dengan komputer, umumnya melalui USB, firewire, atau PCI.

– Software : audio driver, software rekaman

Audio driver software inilah yg membaca dan mengoptimalkan kerja audio interface kita. Optimal itu maksudnya, kita bisa menyesuaikan setting agar sesuai performa komputer kita…

Jadi lebih simple-nya begini :

Tampilan driver ASIO4ALL 2.10 Beta 1

Nah di kiri atas itu ada “Realtek….” dan di bawahnya “USB Audio Codec”. Itu list soundcard yg terhubung dengan komputer. Di situ yg diaktifkan adalah yg USB Audio. Tampilan di atas biasa bisa dilihat di audio settings di berbagai software rekaman.

Di bagian bawah ada “ASIO Buffer Size”. Semakin besar buffer size, semakin besar latency (keterlambatan) audio. Misalnya ketika akan merekam audio, jadi suara yg masuk baru terekam sepersekian detik setelahnya / lebih terlambat gitu. Kalau mainin software instrumen musik dengan controller keyboard, maka sound-nya akan kedengeran agak terlambat. Dalam hal ini, komputer bekerja lebih ringan.

Sebaliknya, semakin kecil buffer size, latency semakin kecil. Tapi kita belum tentu bisa langsung “habisin” slider ke kiri pol, karena belum tentu komputer kita”kuat”. Akibatnya, suara jadi terdengar pecah2/putus2, atau malah software bisa jadi not responding ato crash lho. Jadi, cari setting ‘damai’nya : suara cukup ok/stabil, latency masih tolerable.

.

Selanjutnya, software rekaman. Sekarang ini, kebanyakan yang dipakai adalah yg berupa DAW (Digital Audio Workstation), misalnya Cubase, Nuendo, Sonar, Pro Tools. Disebut DAW karena fitur di software ini sudah komplit : rekaman dan editing audio dan MIDI, mixing, dll.

Output : File audio (WAV, MP3, dll…)

Biasanya untuk audio yg akan di-edit lagi, sebaiknya menggunakan format WAV karena ini adalah format yg uncompressed (makanya sizenya gede banget), kualitas terbaik/asli dari rekaman kita.

– Hardware : Speaker monitor, headphone

Dalam memilih speaker (juga headphone), 2 hal penting yang perlu diperhatikan : power dan respon frekuensi.

Power  –> kekuatan speaker untuk merepro suara. Biasanya lebih kuat dianggap lebih baik, tapi perlu diperhatikan juga ukuran dan kondisi akustik ruangan studio. Kalau terlalu kuat juga kurang baik untuk persepsi audio kita.

Resp0n frekuensi –> kemampuan merepro suara dalam berbagai tingkatan frekuensi (treble, middle, bass). Usahakan pilih yg lebih mendekati NETRAL. Tidak terlalu nge-bass, tidak terlalu treble, tidak terlalu middle. Kenapa? Kalau yg terlalu nge-bass, kita akan cenderung mengurangi bass ketika mixing (malah jadi cempreng kan), kalau terlalu treble, kita tergoda untuk naikkan bass (malah jadi terlalu nge-bass). Intinya, kita perlu persepsi yg netral, supaya bisa menilai dan me-mix audio dengan lebih baik.

 

Beginning The Ear Training

15 Dec

Allow me to start this with some short stories :

a. I was trying some pianos in a fair with a friend. I told her the one that I’m playing isn’t in tune (concert pitch), the C produced a B. She didn’t believe me at first & I showed her by comparing it with other pianos. I guessed it right.

b. I was about to perform using  a “detuned” digital piano (C produced a B. Again?). Oddly, the ‘transpose’ button actually depressed. So what’s wrong? So, I just transposed it (+1) to get it right. Imagine what would happened if I ignored that and the bassist & guitarist have to re-tune their axes with the odd feeling and the singer would feel like “Yesterday I sang it in C, why now it feels like another key?”.

c. And now for an even more ridiculous encounter : someone changed the standard tuning of the keyboard. At first I think this would be like the (b) case, just transpose it. But it just won’t worked. I found that the tuning is not in A = 440, but 452. Feels like I’m tested.

d. Another piano fair, this time with some arranger keyboards too. While I’m trying some keyboards, a lady’s trying a piano. I can clearly recognize that she played “Sometimes When We Touch”, sounds like she’s going to play a full tune. Without looking (to her), I backed her up with Strings patch, at a loud volume to match the piano. No greetings, no chats, and so we did the tune and walk our own way. Just did it for fun (and sharpening my hearing skills); no show-offs intended.

—–

My point is : it’s very important for musicians (including vocalists) to train their ears. To be able to “hear” (and feel) and not just play it mechanically.

.

Think about these 2 examples :

1. When you’re typing on a computer keyboard, you know where’s A-B-C-and the rest of them all. And you know it when you made some mistakes. Carefully delete or backspace it, and continue. Why we can do this? Because each character is DIFFERENT and we do REALIZE the DIFFERENCE.

2. A painter knows what color he/she should use to do the painting. Well, we can notice the difference between blue and yellow, because they are DIFFERENT COLORS and have their own CHARACTERISTICS.

.

The main problem is, both of the examples above are related to visual aspect, while what we’re talking  about now is audio. It can’t be seen. But it’s actually much the same : we have to find the COLORS of the musical elements (like melodies, harmonies & chords, rhythms) and recognize the DIFFERENCES between them.

.

So, how to train our ears? I may explain more about each methods below in another posts, but for now some things in general.

.

.

1. Scales practice (at least all major and minor keys)

Yes, practice scales on your instrument. Not just HOW to play them (fingerings and proficiency), but to HEAR them. Begin slowly to hear them.

2. Interval practice

Now, repeat the scales practice, but with interval variations. For example, in F major, play it this way :

F-G, F-A , F-Bb, F-C, F-D, F-E, F-F (up an octave). Up and down.

Again, speed is not the first priority. LISTEN to the COLOR of each interval.

3. Chord Practice

We may already know what major and minor chords are consist of. But we need to listen to the way they’re working, being put altogether. As an example, here’s one simple pattern :

I -> first major

ii -> second minor

iii -> third minor

IV -> fourth major

V -> fifth major

vi -> sixth minor

vii -> seventh minor

So, in C : I is C major, iii is E minor, vi is A minor, and vii is B minor (or dim – often used before you hit a III – that is, E major played in the context of C).  As you listen to the song, try to FEEL the chords : are they the I, ii, vi, V or what?

There are lots of variations, like II (second major) or VI (sixth major)…

.

.

Okay, here’s a more fun way to practise those things. Listen to a song. In the first run, listen to it with a relaxed feeling. In the middle of it, try to feel the main key of the song : is it in C, D, E, or maybe else? Are there any modulations? If you’re not sure, check it with your instrument. Don’t try to play the chords now.

Now, listen to the song once again. Now try to feel the chord patterns. Feel, and don’t play them yet. Write them down, and if you sure enough (assuming you’re already found the main key), write the chords directly in that key (like C, Dm, etc.). Otherwise, just write the I, ii, iii, etc. Or even the other way, like 1 major, 2 minor, 5 major.

.

With better ears, we can play and arrange music better. Keep practicing!

Mulai Belajar Saxophone (part 3)

23 Sep

Ini dia bagian ketiga dari kumpulan beberapa pertanyaan yg sering diajuin ke gw tentang mulai belajar saxophone:

#6. Mulai belajar pakai sax tipe apa?

Untuk mulai, tipe yang paling banyak disarankan adalah alto. Tenor sering dianggap agak terlalu berat, baik secara fisik alatnya maupun breath support yang diperlukan. Sopran lebih ringan dari alto (fisik dan breath support), tapi memerlukan pitch dan tone control yang lebih baik (bisa agak intimidating bagi pemula, bahkan intermediate player).

Alto sering direkomendasikan karena berada “di tengah2” dua jenis ini, not too heavy, not too easy, not too hard… Selain itu, harga alto relatif lebih murah untuk merk yang sama dan range produk yang sama (bandingkan alto untuk beginner dengan tenor untuk beginner dari merk yang sama). Ketika suatu waktu nanti memutuskan untuk “pindah” ke jenis saxophone lain, alto bisa tetap disimpan; bisa digunakan untuk mengajar.

Meskipun begitu, belajar saxophone sebenarnya bisa dimulai dengan tipe apa saja, dengan niat dan semangat.

#7. Saya belum pernah belajar musik / memainkan alat musik… Apa bisa belajar saxophone?

Ya, bisa. Memainkan alat musik apapun, secara mekanikal bisa dipelajari tanpa pengetahuan akan musik / alat musik lain sebelumnya. Namun, melihat perkembangan ke depannya, gw merekomendasikan untuk memahami (tidak harus sampai level master / sangat mahir) alat musik lain, terutama piano atau gitar.

Sebuah saxophone hanya menghasilkan permainan melodi. Padahal, untuk survive, jika ingin meneruskan lebih dari sekadar hobi, diperlukan pemahaman yang baik akan aspek lain seperti harmoni, chord, dan ritme, yang agak sulit dipelajari dengan saxophone saja.

Jika merasa ragu untuk memelajari piano / gitar, entah karena biaya tambahan untuk mengadakannya atau tambahan waktu yg signifikan untuk latihan, melodika/pianika bisa jadi alternatif yang baik.

Sisi positif menggunakan melodika/pianika :

1. Harga relatif murah. Sekitar 100an ribu. Tipe teratas keluaran Yamaha Rp 420.000,00.

2. Mudah didapat. Di toko-toko bukupun biasanya ada.

3. Mudah dimainkan, breath support yang dibutuhkan tidak sebesar saxophone. Tutsnya pun ringan.

4. Dapat memberikan gambaran mengenai sound akor dan harmoni.

Namun, ada sisi negatifnya juga :

1. Tidak dianjurkan untuk menyetem dengan pianika, apalagi pianika yang murah. Biasanya not-not pianika tidak dalam penalaan yang equal / sama. Mainkan not C, bandingkanlah pada oktaf yang berbeda. Jika dimainkan bersamaan (misal C2 dengan C3), akan terdengar seperti terdapat efek chorus. Untuk menyetem melodika, ada cara tersendiri.

2. Embouchure dan teknik meniup yang berbeda bisa menyulitkan pemula (ketika kembali lagi ke saxophone). Perlu waktu untuk penyesuaian jika sering latihan berganti-ganti instrumen. Saxophone bisa terasa jauh lebih “berat” / kurang familiar, atau sebaliknya.

Sekali lagi, jawaban dari pertanyaan ini : bisa :).

#8. Berapa lama sebaiknya latihan sehari? Apa saja yang (minimal) dilatih seandainya tidak punya banyak waktu?

Biasanya gw latihan sekitar 30 menit – 1 jam sehari. Kadang (misalnya ketika latihan sopran) bisa sampai 2 jam.

Setiap orang bisa memiliki tingkat penyerapan materi yg berbeda, tetapi gw menyarankan latihan2 tidak dilakukan langsung (cth : 2 jam), tapi dibagi misalnya 2×1 jam atau 3×40 menit. Jangan terlalu memaksakan diri, karena dapat berakibat cedera. Selain itu, biasanya kemampuan penyerapan materi akan cenderung menurun. Misal dalam 1 jam kursus / latihan, “waktu efektif” seringkali sekitar 30-50 menit.

Jika tidak punya banyak waktu (misal 20 menit), kita bisa memanfaatkannya dengan latihan seperti ini :

5 menit -> memasang dan merapikan kembali saxophone, termasuk membersihkannya.

5 menit -> 2 sampai 4 tangga nada, dimainkan naik turun secara biasa dan dengan interval (misal tangga nada C : C1-C1, C-D, C-E, C-F, C-G, C-A, C-B, C1-C2)

5 menit -> arpeggio pola 1-3-5 (misal: di C -> C-E-G, E-G-C, G-C-E) atau pola lainnya, naik dan turun sesuai range jenis saxophone yang dipakai. Di 2 tangga nada.

5 menit -> long tones. 3 not di register yang berbeda : low, medium, high, dari range jenis saxophone yang dipakai.

Sebaiknya tidak melakukan semua latihan di atas dengan terburu-buru. Perhatikan juga kualitas tone yang dihasilkan.

#9. Bagaimana dengan aksesoris-aksesoris? Apa saja yang diperlukan dan ukuran-ukurannya?

Jujur, terkadang harga aksesoris saxophone bisa membuat kening berkerut. Beberapa di antaranya terkesan kurang masuk akal. Neck strap Rp 80.000 – lebih dari Rp 200.000? Cleaning swab – kain yang diberi rangka dan tali untuk membersihkan bagian dalam saxophone- bisa di atas Rp 400.000 ? Reed -potongan kayu kecil yang diikat/jepit di mouthpiece, seperti senar pada gitar- yang harganya sekitar Rp 300.000-an ke atas untuk 1 box isi 10 pcs? Mungkin agak “menyeramkan”.

Aksesoris yang penting :

Mouthpiece *

Reed *

Ligature *+

Neck strap *+

Cleaning swab / pad saver +

Cork/mouthpiece brush +

Cork grease *

* : Biasanya sudah disediakan / satu paket ketika membeli saxophone baru.

+ : Bisa “diakali”, dibuat sendiri.

Neck strap bisa dibuat dari tali tas travel (dijahit untuk memudahkan menyesuaikan ukuran).

Cleaning swab bisa dibuat dari kain polishing (biasanya termasuk dalam paket) yang ujungnya diikat tali, tapi sebenarnya lebih baik kalau ada rangka fleksibelnya, yang mengikuti bentuk saxophone.

Cork/mouthpiece brush bisa dibuat dari sikat bergagang kecil dan fleksibel (bisa dibengkokkan, untuk mengikuti bentuk leher saxophone), tapi sebaiknya tidak menggunakan sikat bulu2 yang semuanya kasar. Modifikasi boleh dicoba.

Untuk ligature, ada teman yang pernah “mengakali” dengan beberapa tali pengikat kabel. Gw belum pernah coba dan sejauh ini tetap merekomendasikan saxophone ligature, tapi ini bisa jadi ide yang bagus dalam keadaan darurat.

Untuk mouthpiece, biasanya yang standar diberikan dalam paket adalah ukuran (nomor) kecil, yang cukup untuk “mengenalkan” teknik embouchure dan breath support untuk pemula. Sebaiknya gunakan mouthpiece ini selama beberapa bulan sampai setahun, sebelum berpikir untuk mengganti mouthpiece.

Untuk reed, dalam paket biasanya diberikan 1 potong reed, berukuran 2 atau 2.5 Rico. Ukuran yang cukup umum dipakai adalah 2 untuk pemula, 2.5 atau 3 untuk intermediate sampai pro (ukuran Rico). Untuk merk Vandoren, biasanya lebih tebal ½ nomor dari Rico. Lebih jelasnya dapat dilihat perbandingan ukuran berbagai merk reed di sini.

Oleskan cork grease pada neck saxophone baru / ketika menggunakan mouthpiece baru, supaya tidak perlu menggunakan tenaga berlebihan (bisa merusak alat) ketika memasukkan/mengeluarkan mouthpiece dari neck.

Diary : Me and My Soprano (Part 3)

6 Sep

3 September 2010

————————

Still repeating the routines : changing necks, tunings, pentatonic practice,… And variations on clip-on mic placement. Still fighting with the tuning. Lesson learned : you can’t tune a soprano in just one day, since you’re on the process of forming better soprano embouchure. I may think I’m fine today, but the next day it’s just changed somehow. Keep the hardwork.

Another point, like I can apply the soprano Yamaha mouthpiece patch on an alto, the alto patches also can be applied on my soprano mouthpiece. I use the thicker, orange one  :

4 September 2010

———————–

Just one day left! Question of the day is : Am I ready? Digged more Kenny G tunes (I even made a simple minus one of “Songbird”) and practice harder.  Again, I did this to learn some sweet phrases quickly. Yeah, I promise I would study more with Berklee’s (The “Get Your Band Together” series, one book for Tenor & Soprano) & Steve Lacy’s book (“Findings : My Experience On Soprano Saxophone” – intermediate & pro method, I think). Just for this Sunday…

In the evening, I got a message that for the morning’s service tomorrow I have to sub a keyboard player. And so I dared myself playing this horn on the afternoon’s service. I also filled in as the second keyboardist.

5 September 2010

———————–

Before I’m going, I still haunted with the same question : Which horn? Safer with alto, or dare myself to bring this soprano? I choose the latter.

So, what happened?

Some false notes occured on some first songs. Sometimes I moved my hands from sax to synth not just to enhance the song, but also to “cover” those faults. Later I improved the tuning by pushing & pulling the mouthpiece and apply some more vibrato.

Lessons learned : vibrato is very important on soprano. You don’t have to do it like Sidney Bechet, but do it to improve the tuning (if it’s missed slightly; still have to adjust the mouthpiece when you’re way too flat or -especially- too sharp). Also, while playing, keep the notes on your mind. For example, you want to sound an A. Don’t just do the fingering and really sure that note would come out easily. Listen to the sound you’re producing, watch your pitch.

I should admit that I didn’t win this time. 4 days weren’t really enough, though I’ve played alto for more than 4 years.