Archive | Sudut Pandang RSS feed for this section

Your Life Book and Sense of Direction

5 Jul

Beberapa waktu belakangan ini saya dipertemukan dengan beragam teman2 baru dari berbagai profesi, dan juga teman2 lama. Macam2 cerita, macam2 inspirasi. Dari semuanya, saya jadi terdorong untuk menulis post ini, dan juga lanjut update beberapa (atau… banyak) bagian dari blog ini.

.

.

Buku dan Cerita Hidup

Menurut saya, hidup itu seperti menuliskan cerita di buku, yang kita tidak tahu kapan akan kehabisan kertasnya. Ada orang2 yang memilih untuk membuang atau membakar bukunya, tapi bagaimanapun alasannya, itu bukan pilihan yang bijaksana, karena sebenarnya buku itu bukan milik kita, hanya dipinjamkan untuk ditulisi dengan baik.

Meskipun begitu, namanya manusia… Kita pasti pernah salah tulis di dalamnya. Ada yang ketika salah langsung dicoret2, ada yang cukup digarisi melintang, ada yang diberi kurung dan silang2, ada yang pakai tipp-ex, dilabeli, dan lain-lain. Space di kertas jadi berkurang, tapi masih ada kesempatan untuk lanjut menulis.

Sering dengar istilah “move on”, “buka cerita/lembaran baru”, “awali lagi”. Saya setuju, ada awal dan akhir. Meskipun begitu, sepertinya kurang bijak untuk segera merobek dan membuang lembaran2 sebelumnya, lalu menulis suatu cerita yg benar2 beda. Hal2 yang di belakang tetap berguna dalam membangun keutuhan cerita hidup kita. Di dalamnya mungkin ada hal2 yang akan kita syukuri dan sesali, semuanya berguna seperti kaca spion di kendaraan. Tetap bergerak maju, sambil membandingkan posisi saat ini dengan apa yang ada di belakang kita.

Dalam menulis, kita juga melihat hubungan2 antar bab, antar cerita2 di dalamnya. Pernahkah kita membaca suatu buku, atau nonton film, yang bagian awalnya seru dan/atau menarik, tetapi akhirnya tanggung, membingungkan, atau antiklimaks? Sebaliknya, bagaimana dengan yang awalnya terasa membosankan, terlalu lambat, terlalu berputar atau bercabang, tapi diakhiri dengan bagus?

Akan sulit untuk melihat hubungan2 antar cerita, kalau kita terlalu sering membuang halaman2 yang lama. Kita jadi terlalu yakin sudah terus bergerak maju, padahal tidak tahu dari mana ke mana kita berpindah.

.

.

Kepekaan Akan Arah

Ketika mau pergi ke suatu tujuan, tentunya kita perlu mengetahui dari mana titik awal kita, selama perjalanan akan melewati patokan2 apa, dan tujuan kita di mana. Kalau ada hal2 tidak terduga, seperti jalan atau lajur yg ditutup, kecelakaan lalulintas, patokan2 yg sudah berubah, dan lain-lain, kita perlu re-routing, seperti di aplikasi2 peta pada umumnya.

Dalam perjalanan, selain membaca peta, kita juga perhatikan papan2 penunjuk arah, bahkan kadang bertanya ke orang2 sekitar, untuk memastikan arah. Bagaimanapun juga, yang paling nyata adalah yang kita hadapi di jalan, bukan sekadar gambar dan tulisan yang kita pegang sendiri. Saya pernah diantar seorang sopir yang ketika saya anjurkan untuk lihat Google Maps, dia bilang,”Ah, itu sih ngaco. Saya TIDAK PERNAH SALAH.” Wah, luar biasa. Tidak sampai 20 menit kemudian dia salah ambil jalan (katanya alternatif tidak lewat tol, tapi ternyata masuk tol juga).

Mungkin, ada kalanya kita tersesat, atau disesatkan. Seandainya tidak memungkinkan untuk melihat peta, kita perlu mengingat titik awal (di mana kita tersesat), mencari patokan2, menghubungkannya sampai ke tempat yang cukup familiar.

Kadang, kita juga ingin berjalan bebas, berkeliling sampai menemukan hal2 yang inspiratif. Meskipun terkesan “bebas”, tentunya kita juga perhatikan petunjuk2 jalan, rambu2, lampu lalulintas. Kemudian, ada saatnya kita akan re-routing, ke tujuan yg akhirnya dipilih. Tetap memiliki kepekaan arah.

Begitu juga dengan hidup, dan bermusik. Awal, patokan, aturan, petunjuk, re-routing, akhir. Kita tentunya tidak memulai perjalanan dengan tujuan yang “semoga”. “Mau ke mana, Pak?” “Yaaa semoga saya sampe di Cilandak deh.”

Ada saatnya bergerak maju, belok, berpindah lajur, berhenti, mundur, putarbalik. Semuanya tentu dengan visi, tujuan.

.

.

.

Banyak masalah dalam hidup muncul atau jadi semakin parah ketika kita merasa memiliki buku hidup kita (dan orang lain) dan/atau merasa sebagai yang punya jalanan dan aturannya. Menurut saya, yang kita miliki adalah CERITA dan PERJALANAN hidup. BUKU dan JALANAN/LALULINTAS bukan hak milik kita.

Terus berjuang, semoga cerita dan perjalanan kita baik adanya. Mungkin tidak selalu mulus, tapi baik.

Advertisements

Sesuatu dari “Escape Plan”

11 Apr

Hello, it’s me again. And yes, I’m back. Terlalu banyak cerita yang terjadi selama gue ga di sini… OK, kita mulai dari yang semalam aja ya…

.

.

Pembicaraan dengan seorang teman mengenai masalah-masalah di dalam berbagai komunitas hidup (bisa berupa keluarga, pertemanan sekolah/kuliah/kantor, gereja, dsb.), tiba-tiba membuat gue teringat dengan sebuah film di tahun lalu:

EscapePlan2013movie_zpsef55e8bb1

Sebelum lanjut membahas beberapa hal tentang film ini, sebenarnya masalah apa yang lagi diobrolin?

Dalam suatu komunitas, kita menghadapi orang2 dengan berbagai karakter. Salah satunya, ada orang2 yang mungkin dominan dengan pendapat atau pandangannya, yang kadang kurang kita setujui. Orang-orang seperti ini bisa terlihat kurang mau mendengar, cenderung memaksakan pendapatnya, membuat posisi kita seperti tersudut – gue suka menyebutnya dengan “terpaksa mendengarkan”. Hal ini tentu membuat rasa tidak nyaman, meskipun sebenarnya dengan potensi-potensi tertentu, orang2 seperti ini juga bisa bermanfaat baik bila menempati posisi tertentu di komunitas itu (menurut gue: posisi manajerial, atau juga pemimpin. dengan bekal visi dan misi yang kuat, orang yang “dominan” seperti ini bisa membawa timnya bergerak cepat).

Itu salah satu contoh. Namun, ada banyak hal2 atau orang2 lain yang bisa membuat kita merasa kurang nyaman berada di sebuah komunitas. Lalu bagaimana meresponnya?

.

Kembali ke “Escape Plan” tadi. Film ini bercerita tentang Ray Breslin (Stallone), seorang ahli desain prison security, yang menguji kualitas keamanan suatu penjara dengan sengaja menyamarkan identitasnya sebagai narapidana, masuk ke suatu penjara, dan mencoba kabur dari penjara itu. Suatu hari, dia dapat tawaran job ngetes suatu penjara, dgn bayaran besar, tapi ternyata dia dijebak. Ini film yang seru banget, lumayan sadis buat gue, tapi baru kemarin malem gue bisa pelajari pesan lain yg bisa didapat dari film ini:

  1. Ketika berada dalam suatu penjara, yang pertama dilakukan Ray bukan mengeluarkan semua kekuatan(terutama fisik)-nya, tapi memelajari sebanyak mungkin hal2 tentang penjara itu. Kondisi ruang tahanan, rutinitas dan karakteristik penjaga, kegiatan narapidana2 lain, dll. Banyak hal, sambil dia juga mengalami hal2 ga enak yg dialami napi2 lainnya. –> Meskipun kita merasa ga enak, tertekan, tetaplah berusaha untuk mengambil hal2 yg bisa dipelajari dari komunitas tersebut. Open our ears and senses. Listen and learn first.
  2. Tagline dari film ini adalah “No one breaks out alone”. Dalam usaha kabur dari penjara, Ray tidak pernah benar2 beraksi sendirian. Ada anggota timnya yang membantu dari luar penjara, dan di penjara di mana dia dijebak, ada Emil Rottmayer (Arnold) yang membantu. Ada orang2 “kunci” tempat dia berbagi pengetahuan dan strateginya. –> Begitu juga untuk bertahan di dalam komunitas, sebaiknya kita punya orang2 kunci untuk mendapat masukan2 dan berbagi beban.
  3. Pada akhirnya, tujuan pekerjaan Ray bukan sekadar keluar dari penjara, tapi untuk memberi masukan, desain yang lebih baik. Dia menceritakan proses bagaimana dia bisa keluar, di mana celah2 keamanannya. Dia tidak menggunakan kemampuannya untuk mengeluarkan napi2 lain. –> Setelah banyak belajar, ada saatnya juga kita perlu memberi masukan2, meskipun ada kemungkinan kurang/tidak didengar.

.

Sedang berada dalam situasi “no other choice but to listen”? Manfaatkan itu untuk belajar, dan nantikan kesempatan “break out” 😉

Seminggu Lalu dan Hari Ini

5 Nov

Post gw sebelum ini adalah di bulan Mei 2012, itupun cuma tentang jualan (setelah ini gw juga mau posting jualan lagi sih :p hehehe). Waktunya bersihin sarang laba-laba, rayap, debu, dan sisa2 makanan #ehhh ….

.

Jadi, apa yg membawa gw kembali ke sini?

Ada berbagai ups and downs sepanjang September – Oktober ini dan semuanya berlangsung lumayan cepat. Nah, di minggu kemarin gw melihat, merasa, mendengar beberapa hal yg seperti menjadi pelajaran buat gw, mungkin semacam jawaban juga. Mudah2an bisa bermanfaat juga buat temen2.

.

1. Berpikir di Luar Kotak

“Berpikir di luar kotak” bukan hanya dalam problem-solving. Dalam beberapa waktu belakangan, gw semakin melihat perlunya ini diterapkan dalam pergaulan juga. Hidup bukan sinetron. Orang tidak bisa dikotakkan dalam kategori “selalu baik”, “selalu jahat”, “selalu benar”, “tidak berguna”, “menyebalkan”, dan kotak-kotak lainnya. Setiap pribadi itu unik, dan rasanya lebih baik kita belajar untuk melihat dari sudut pandang orang lain juga. Kalau sudah begini, lama-lama “kesan pertama” semakin kurang relevan. Butuh investasi waktu yg lebih, untuk memelajari dan menilai orang. Ini juga berarti menyiapkan hati kita, untuk sewaktu-waktu dikecewakan/disenangkan oleh orang yang tidak kita duga.

 

2. Bicara Lebih Banyak, Bicara Lebih Sedikit

Ini dua hal yg berbeda, yg mesti lebih dipelajari timing-nya, kapan pakai yg mana. Di satu sisi, mesti lebih berani sampaikan ide, kalau kita memang bener2 mau lakuin itu atau kita mau itu terwujud. Di sisi lain, meskipun kita tahu banyak, tidak berarti kita harus bicarakan semuanya karena sangat rentan jadi keluar konteks. Hati-hati batas antara tahu banyak, sok tahu, dan pamer pengetahuan. Know when to talk more, talk less, and maybe even more important…. listen more.

 

3. Hidup Terus Berjalan

Tidak peduli seberapa senang/kecewa/marahnya kita dengan kehidupan kita sekarang, umur terus bertambah (atau tiba2 berhenti). Jadi, teruslah berpikir ke depan. Masa lalu itu seperti kaca spion, membantu kita memosisikan diri, tapi untuk bergerak maju tentu kita harus melihat ke depan. Bukan hanya tentang hidup kita, tapi juga berpikir ke depan ketika memandang orang lain (mirip2 poin 1 tadi).

 

4. (Otomatis) Menjadi Inspirasi

Orang2 selalu menilai kita. Selalu. Kita mungkin bisa merasa hideous, invisible. Tapi dalam setiap interaksi kita dengan orang lain, mereka akan menilai kita. Yang unik, jangan berusaha terlihat baik… Tapi jadilah baik. Do what you mean and mean what you do. Kadang (atau sering) kita tidak sadar, hal-hal kecil yg kita lakukan dgn baik, bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Yg lebih membingungkan lagi, “kebodohan”/”kekonyolan” kita pun bisa menarik atau menginspirasi orang lain.

.

.

.

4 poin itu dulu ya… tadinya gw mau cerita lebih banyak (tadinya judulnya “Seminggu, Setahun, 24 Tahun”), tapi gw pikir2 lagi mungkin lebih enak dipisah di post yg lain hehehe.

Terima kasih untuk teman-teman lama dan baru yang tanpa sadar telah menginspirasi gw untuk nge-blog lagi.  🙂 shoutout to Maddy! :p

Valentine : Hari Gini ?

15 Feb

Bagaimana teman2 menjalani hari Valentine kemarin? Apakah ada sesuatu yg spesial? Baik acara/kegiatan khusus yg uda disiapin atau kejutan2 ga terduga (namanya juga kejutan ya?) yg dialami…

.

Tadinya gw pikir ga bakal ada cerita gw yg menarik di Valentine tahun ini (lagian, emang kemaren2 ada? Baru ada 1 post mengenai Valentine di blog ini, sebelum post ini). Bayangin, dari hari Minggu subuh gw sakit (perut seperti melancarkan kudeta, dengan kata lain : diare), tapi tetep jalanin pelayanan. Well, dulu gw pernah pelayanan sambil sakit gigi, pernah juga sambil demam… Bukannya sombongin penyakit nih, tapi kalau Tuhan uda kasih kekuatan ya dipake aja gitu.

Yg gw & temen2 pelayanan yg lain pikirin adalah ada temen (sebut saja “X”) yg uda kena diare bbrp hari sebelum gw, dan kemungkinan dia ga bisa ikut pelayanan hari itu. Padahal posisi dia cukup vital : drummer, dan di bbrp lagu lain sebagai singer. Ada sh yg bisa gantiin sbg drummer. Tp singer? Nah ini bikin bingung juga… Karena dia yg mnjadi lead vocal untuk lagu utama yg dipromosiin he3…

Paginya dia ga berangkat dalam satu rombongan. Tapi yang penting bisa dateng jg.

.

.

Back to the topic, hari Seninnya gw masih rada lemes. Cancel janji dgn personal trainer, praktis seharian gw di kamar. Sorenya ada pelayanan di daerah Gajah Mada. Kalo paginya gw paksain fitness, nah gw ga tau deh masih bisa pelayanan ga tuh wkwkwkwk. Pemikiran bahwa ini akan menjadi hari yg membosankan mulai muncul. Temen gw “hanya” laptop & modem USB.

.

Jadi, gw mulai dengan masukin order saxophone alto, flute, & 2 box reed sax yg barangnya uda gw pilih2 dari beberapa hari yg lalu. Terus menemukan account FB-nya Sonny Rollins, salah satu saxophonist favorit gw yg di polling Jazztimes Readers 2010 memenangkan kategory Best Tenor Saxophonist. Sudah di-accept, thanks Mr. Rollins! (btw asli ga ya account-nya? :P)

.

Selanjutnya, entah kenapa gw yg uda berapa hari ini males banget buat online di YM, tergerak untuk membukanya. Gw tiba2 inget si “X” (yg gw ceritain di atas) belum ada di list gw. Biasanya gw pake Meebo untuk YM, tapi sekarang gw coba pake webmessenger-nya. Awalnya agak confused juga dengan pengaturan listnya, “find contacts”-nya ngambil dari email address juga.

.

Sebenernya gw bingung, karena seinget gw dulu2 uda pernah berapa kali Add si X ini, tp koq rupanya ga di-accept2 juga. Ketika kita mulai chat kmaren, akhirnya dia mengakui kalo dia kirain gw kyk tukang ngiklan gitu, mengingat yg nongol di screen dia adalah nama email gw : keduasecond. “Gw kira ini penjual barang2 second gitu”. Gw yakin waktu duluuuuu ko2 gw ngusulin nama ini buat gw, dia ga kepikir bahwa suatu hari orang bisa beranggapan seperti si X.

.

.

Jadi seharian kita chatting (ga seharian juga sh, kalo di kamar ga istirahat2/tidur ya sama aja dong ga istirahat namanya) mengenai (tidak berurut):

1. kemungkinan sumber penyakit kita ini (makanan paket nasi kotak? bubur? apa dong?)

2. makanan2 pantangan selama kondisi kita kyk gini (misalnya susu, keju, coklat… yg trnyata gw langgar terus :P)

3. pelayanan hari Minggu kemaren

4. pelayanan ntar sore

5. dll (maksudnya : gw lupa)

Ini chatting yg simple, tapi dalam kondisi kyk gini koq rasanya lebih bermakna. Dulu2, gw kalo lg chatting dan mulai merasa uda males ngomong sama lawan bicara, gw bisa main langsung logout gitu. Kadang tanpa permisi juga he3, sorry ya temen2 yg pernah ngerasain. Tapi kali ini gw merasa pengen online terus… Lesson learned : A SIMPLE THING CAN BE TURNED INTO A SIMPLE KINDNESS. Hal2 sederhana yang kita lakukan bisa berubah menjadi kebaikan.

.

.

Sorepun tiba, dan dengan masih agak pusing gw berangkat. Jujur, pas sampe di GM Plaza, my first steps, gw masih ngerasa jalan ga napak (koq kesannya serem gitu yah.. kyk hantu lokal). Gw brangkat pagian. Acara mulai jam 7 malem dan sekitar jam 4.15 sore gw sudah sampai. Tiba2 gw dikontak temen gw yg cariin pemusik. Dia rupanya lupa kasih tau gw kalo ada perubahan formasi. Gw yg sebelumnya mestinya main keyboard, jadi diminta main saxophone.

.

Gw panik. Gimana caranya mau balik ambil lagi? Tiba2 gw inget, si X kyknya blom jalan dr rumahnya. Jadi gw telp dia, minta tolong dia ambil sax sopran di rumah gw. Ini sesuatu yg kurang enak dan tidak mudah; sorry ngerepotin nh, X. Rumah gw di Taman Aries, Meruya. Dia di Tanjung Duren. Tempat pelayanan kita di Gajahmada. So? Bagi yg belum mudeng, coba cek di peta deh bentuk dan arah jalannya 😛 . Selain itu, cuaca mendung2 dan dari pagi dan siang hujan terus, cuma beda gede kecilnya aja. Waktu gw berangkat tadi, mendung tapi lagi ga hujan. Makin sore kan makin mendung tuh, ga tau deh dia kehujanan ga. FYI, dia naik motor.

.

Sambil nunggu dia, gw duduk2 minum liang teh di foodcourt di atas. Trus dikontak temen gw yg jadi WL sore ini, ternyata dia uda di GM Plaza juga dan lagi nyalon. Abis selesai dari salon, kami nongkrong bentar di CuppaCoffee di bawah. Lumayan, ditraktir hot chocolate (yang ternyata berarti : SUSU COKLAT panas. Double foul, mengacu pada chatting gw dgn X tadi siang). He3. Tetep, gw ga tenang jg. Jadi bolak-balik liat jam tangan sambil nanya dalem hati,”Koq si X blm kabar2in juga ya? Uda sampe mana? Kehujanan ga?”

.

Akhirnya setengah 7 lewat dikit dia dateng, dengan sax sopran gw.  Hooray!

.

OTW pulang malamnya, gw sempet ngobrol dgn seorang bapak yg tanya2 tentang hari Valentine ke gw:

“Dek, gimana hari ini? Ngerayain palentino… Valentine gitu?” (sok lucu juga nh bapak..he3)

“Ah, saya ngga lah, ga trlalu mikirin juga he3.”

“Ooh.. Iya, sebenarnya anak2 muda pada ngerayain Valentine buat apa sih? Sejarahnya apa?”

Nah gw tuh cuma inget sepotong-potong tentang cerita St. Valentine. Jadi gw ngecap sampe dia berhasil menarik kesimpulan………………..bahwa gw juga ga tau. Ngecap gw gagal.

“Ya, saya bingung nih dek, liat anak2 sekarang sukanya pada ikut2an, kebarat2an aja..”

“Saya sih juga ga trlalu mikirin pak, mungkin karena saya belum ‘punya’ juga ya..”

Nah, pertanyaan dia berikutnya ini yg menyentuh gw:

“EMANGNYA VALENTINE CUMA BUAT PASANGAN YA? GA BISA SAMA TEMEN ATAU KELUARGA GITU?”

.

Nyantai. Gw nulis itu huruf kapital semua bukan berarti waktu ngomong kalimat tadi, bapak itu mencengkeram kerah jaket gw / mencekik gw sambil teriak2 sampe diliatin satpam2 dan mas2 pedagang asongan. Tapi gw tulis begitu, yg pertama supaya kita sadar bahwa kasih itu perlu kita bagi2kan. Jangan kayak ababil yg mudah galau dan unyu wkwkwkwkwk.

.

.

Yg kedua, ini menyadarkan gw bahwa hari ini gw sudah melihat dan merasakan contoh perbuatan kasih. Ini menjadi tanggung jawab gw untuk menerapkannya.

Dengan kesadaran akan 2 poin ini, gw menjawab bapak itu, “Ga pak, Valentine sebenernya bisa koq dengan temen2 dan keluarga. Sekarang ini banyak juga yg sudah seperti ini.” Atau sudah berpikiran lebih maju?

.

.

.

NOTE : Ternyata si X rumahnya bukan di Tanjung Duren, tapi Cengkareng. That’s a very sotoy of me…

Tetep dgn perjuangan juga, karena jalanan di ringroad situ yg deket puri lg ada perbaikan2 yg bikin maceeeet. Dia harus muter lewat Bojong.

Ternyata X ultah tgl 16-nya (gw beneran ga inget). So, pas malem chatting lg, gw bilang post ini skalian jadi hadiahnya deh. Teman2, jangan bilang gw ga modal 😛

Pertama di 2011 : Tentang Persembahan

3 Jan

Di minggu pertama 2011 ini, gw tertarik menulis post tentang memberi persembahan. Dalam hal ini juga akan dibahas sedikit mengenai persembahan sulung.

.

Ok, let’s start with the basics. Mengapa kita memberi persembahan? Menurut gw intinya ada tiga :

1. Bentuk ucapan syukur kepada Tuhan.

2. Menolong sesama (diakonia).

3. Berkorban untuk mendukung pekerjaan Tuhan (pembangunan, renovasi, dll).

.

Sedangkan, hal-hal yg bisa mendasari kita dalam memberi persembahan:

a. Ketulusan / kerinduan hati

b. Ketentuan / peraturan Firman Tuhan

c. Kebijaksanaan / hikmat

.

.

Ok, sekarang ini sedang banyak dibicarakan mengenai PERSEMBAHAN SULUNG. Mungkin karena pas awal tahun? He3…

Suatu malam, tanggal 30 Desember 2010, gw dan nyokap menggelar “talkshow” di meja makan *halaaah…* membahas masalah ini. Lho, kenapa jadi MASALAH? Ini dia : Jemaat banyak yang belum mengerti, baik karena belum diberikan pengertian, sudah diajarkan tapi belum mengerti, atau malah diberi pengertian yang kurang tepat.. Tetapi diharapkan untuk SEGERA MEMBERI. Tidak menjadi masalah jika orang memberi karena poin 1-a (dari yg di atas). Tapi bagaimana jika orang memberi dalam kebingungan atau malah dongkol? Ini bisa menimbulkan salah paham bahwa gereja seperti bernafsu menuntut uang/materialistis.

Jadi gw & nyokap berinisiatif untuk menegaskan/memantapkan kembali keyakinan kami mengenai hal ini, sesuatu yang sebenarnya sudah dipahami bahkan sebelum gw genap berumur 10 tahun. Ini tidak bermaksud sombong, gw bersyukur atas banyak hal yg bisa gw mengerti sejak dari kecil. Inget post gw dulu? “Don’t waste what you’ve got” …

.

.

Langsung aja…

.

1. Motivasi / Tujuan


Beberapa orang hanya membaca Amsal 3 : 9 dalam memberi persembahan sulung. Bahwa “Muliakan Tuhan dengan hasil pertama dari segala penghasilan, maka lumbung-lumbung akan diisi… dst”. Akibatnya? Orang malah berpikir : “MARI KITA MEMBERI SUPAYA DIBERKATI”. Oh, come on! Emangnya persembahan itu investasi? Persembahan itu pengorbanan. Selain itu, ingat bahwa ini adalah Kitab Amsal. Ini adalah suatu hikmat/kebijaksanaan. Bukan suatu ketetapan/perjanjian/kontrak. Jangan kita protes/mengeluh kepada Tuhan seandainya kita belum diberkati padahal sudah memberi. Jangan ayat ini kita jadikan dasar bahwa kita harus diberkati.

It’s good bahwa ada kesaksian2 banyak yang diberkati dengan luar biasa setelah memberi. Again, God is good. Tapi kesaksian2 ini jangan dibaca sebagai IKLAN PELUANG INVESTASI.

.

Nah, mari coba lihat Imamat 23 dan Ulangan 26. Di situ (Imamat 23) jelas ditulis bahwa tujuan dari kita memberi persembahan sulung adalah untuk mendapat PERKENANAN TUHAN. Jangan buru2 incar berkatnya dulu, tapi perkenanan Tuhan jelas jauh lebih penting! “Eh, tapi kalo Tuhan berkenan, gw pasti SELALU diberkati donk?” “Oooi balik2 ke situ lagi ngomongnya.” *jitak*

.

2. Waktu


Hal yang tidak kalah ramai didiskusikan mengenai persembahan sulung adalah waktu dalam memberikannya.

Bangsa Israel dulu hidup dalam penindasan di Mesir. Dengan pertolongan Tuhan, mereka dibebaskan dan hidup mengembara di padang gurun sebelum masuk ke tanah perjanjian. Artinya, mereka tidak produktif/memiliki penghasilan selama kurun waktu itu, karena Tuhan yg secara langsung memelihara mereka melalui mujizat-mujizat.

Di Kitab Imamat, Tuhan berfirman kepada Musa, yg intinya : “Apabila sudah masuk ke negeri yang telah dijanjikan itu, dan sudah menuai hasil (panen) pertama, berilah persembahan khusus (sulung)”. Artinya, persembahan sulung diberikan ketika terjadi perubahan dalam hidup org2 Israel. Mereka akan memiliki tanah, menetap, dan menghasilkan.

Gw dan keluarga memandang ini sebagai perubahan dari seseorang, dari yang belum memiliki penghasilan menjadi berpenghasilan, baik itu dari pekerjaan tetap atau tidak. Yang penting ada, sudah bisa punya penghasilan.

Secara pribadi, berarti gw tidak memasalahkan perpindahan tempat kerja / karyawan kontrak / wirausahawan dengan berbagai bidang usaha. Yang penting adalah momen perpindahan dari “belum berpenghasilan” ke “berpenghasilan”, BUKAN “belum bekerja” ke “bekerja”. Yes, that’s different.

Diberikan sekali seumur hidup atau sekali setahun? Kalau setiap pindah kerja sih (kalo gw) tidak (seperti yg uda dijelasin di atas). Ini murni keyakinan masing-masing. Gw tetap berpegang dengan pemahaman di atas.

.

3. Jumlah


Nah, ini lebih sensitif lagi, hahaha… Apakah benar2 harus seluruh gaji/penghasilan pertama? Mereka yang baru saja pertama kali membaca Imamat 23 dan Ulangan 26 bisa langsung menjawab “tidak, hanya sebagian saja”. Tapi mari kita omongin pelan-pelan dulu…

Yang Tuhan minta dari ayat-ayat tsb adalah “seberkas dari ambilan pertama dari panen pertama”. Jadi, dalam panen kan ada beberapa kali ambilan. Satu ambilan terdiri dari sejumlah berkas. Nah, jadi yg dipersembahkan adalah seberkas dari ambilan pertama.

Sekarang kembali ke keyakinan masing-masing :

1. Apakah kita menganggap gaji kita (misal bulanan) adalah satu kali panen? Jika ya, maka kita tidak memberikan semuanya, tapi sebagian saja.

2. Atau, kita menganggap satu gaji kita sebagai satu ambilan? Sama juga sih kayak no. 1 ….

3. Atau, kita menganggap satu gaji kita sebagai salah satu berkas? Maka kita akan memberikan semua gaji/penghasilan pertama.

Gw sendiri memegang keyakinan no. 3, yg sudah gw lakukan sekitar tahun 2005 lalu.

Jadi, ini memang tidak ada hubungannya dengan perpuluhan. Tidak perlu disebutkan “minimal perpuluhan”.

________

Yang penting, jangan saling menghakimi karena berbeda keyakinan dalam hal ini. Jangan menuduh atau menyalahkan.

Dengan menjelaskan keyakinan gw di atas, gw tidak memaksa orang2 untuk mengikutinya, atau menyatakan pandangan ini sebagai yg paling benar. Gw juga tidak bermaksud menyerang/mematahkan/meniadakan berbagai pengajaran yang sudah dibagikan di berbagai denominasi gereja dan juga komunitas2.

Gw menulis semua ini untuk membantu teman2 yg blm mengerti (atau bahkan blm pernah mendengar tentang persembahan sulung), mungkin bingung dalam melakukannya, dan/atau tertekan karena merasa dipaksa menjalankan apa yang belum dimengerti (seperti dihakimi/memiliki perasaan tertuduh).

Kembali lagi ke paling atas, alasan2 dan dasar2 kita dalam memberi persembahan adalah elemen terpenting. Jangan memberi persembahan karena terpaksa, karena ikut-ikutan, karena INGIN DIBERKATI.

.

Silahkan berbagi pendapat melalui opsi “comment”, GBU 🙂

Best Posts of 2010

25 Dec

Seperti tahun lalu, gw akan mengumpulkan post2 pilihan sepanjang tahun ini ( 1 post dari 1 bulan)… Yang membedakannya, di bagian akhir nanti gw akan menambahkan polling, jadi teman2 bisa pilih artikel favorit.

Pilihan Anda akan menentukan arah penulisan blog ini tahun depan * belum tentu juga sih 😛 *

.

Eh ya, sekalian renungan Natal deh he3.

.

Begini, dalam berbagai perayaan Natal, kita seringkali hanya berfokus pada satu peristiwa, yaitu Yesus Kristus yg lahir. Misalnya, bagaimana dan di mana Dia lahir. Atau malah sebaliknya, terlalu mengawang-awang (ga pake ba-bi-bu, langsung ngomongin perdamaian, anti-narkoba, anti-terorisme. Ini ga salah. Namun, tanpa pijakan/dasar yg kuat, ini hanyalah 1 dari sekian banyak “khotbah/renungan baik” dan -sorry- bukan “khotbah/renungan Natal”).

Nah, mari sekarang kita coba pikirkan situasi sosial ketika itu, menjelang dan ketika Yesus lahir.

.

Menjelang Dia lahir, bagaimana kondisi masyarakat Israel? Mereka dalam penjajahan bangsa Romawi. Apakah mereka semuanya menderita? Tidak, tidak semua. Beberapa di antaranya:

– Kalangan bawah yang memang “sasaran empuk” untuk ditindas.

– Kalangan pekerja.

– Kaum separatis, yang mengadakan perlawanan secara fisik terhadap pemerintahan Romawi.

– Pengusaha / pedagang (semakin “dekat” dgn penguasa, semakin lancar bisnisnya).

– Pemuka agama (Imam), baik yang baik, yg munafik, yg “dipengaruhi” penguasa juga ada.

– Orang2 yang bekerja pada pemerintah (seperti pemungut cukai).

.

Dengan dinamika tersebut, dapat disimpulkan bahwa mereka tidak seperti dulu di Mesir, di mana semuanya sama-sama ditindas. Apa pengaruhnya? Mereka “mengurangi/membatasi” janji Tuhan.

Maksudnya, Tuhan sudah berjanji mengenai juruselamat. Konsep juruselamat ternyata lebih dianggap sebagai pembawa perubahan besar, jor-joran. Mereka berharap juruselamat ini yang akan mengandaskan Romawi atau penjajah lainnya, akan menegakkan kerajaan Israel sekokoh-kokohnya, and they will live happily ever after.

.

Mungkin mereka berpikir, hanya itu satu-satunya jalan untuk mereka bisa hidup dengan damai sejahtera. Apa betul? Apakah kita sering juga mengukur suatu solusi / kondisi ideal dengan pemikiran kita sendiri, tetapi minta Tuhan untuk mengerjakannya?

.

Berikutnya, suara mereka juga tidak bulat. Ketika di Mesir, semua merasa sakit dan menderita, semua menjerit minta pertolongan. Bagaimana dengan saat ini?

Seperti yang tadi disebutkan, ada kalangan tertentu -dengan berbagai kemungkinan profesi- yang dekat dengan atau malah langsung bekerja untuk penguasa Romawi. Ada sebagian yang mungkin masih menyimpan janji Tuhan itu dalam hatinya, tapi menjadi agak bimbang karena posisinya saat ini. Sementara itu, yang dibutakan oleh uang dan kekuasaan mungkin sudah melupakannya.

Intinya, mereka mengutamakan SURVIVAL & STABILITY. Selanjutnya, juga POWER. Semuanya dalam standar mereka sendiri (“harus dekat dengan penguasa”).

.

Coba kita kaitkan lagi hal-hal ini dengan harapan mereka sendiri semula di atas. Ada yang aneh.. mereka justru seperti MENENTANG mimpi/harapan mereka sendiri. Mereka menginginkan perubahan besar, tetapi menutup diri terhadap perubahan-perubahan kecil. Akibatnya, banyak yang tidak peka dengan kehadiran Yesus Kristus di dunia kala itu. Bahkan yang meneriakkan “Salibkan Yesus!” secara langsung bukanlah orang-orang Romawi, tetapi orang-orang Israel juga.

.

Selama hidupnya, Yesus memang banyak melakukan mujizat, tetapi dia lebih banyak MENGAJAR. Ini berbicara mengenai proses/pembentukan. Apa tujuan dari proses ini? Salah satunya : orang bisa menjadi agen perubahan.

* Bukan hanya fokus pada perubahan di bidang fisik/materi saja, tapi perubahan di sisi rohani (trmasuk pola pikir).

* Bukan hanya persoalan hidup (yang) “gaya”, tapi gaya hidup.

* Bukan hanya bermental “yang diselamatkan”, tapi juga bermental “penyelamat”.

.

Jadi, kelahiran Yesus BELUM memberikan perubahan besar. Yang terjadi adalah perubahan2 “kecil” (dalam skala big plan-nya Tuhan), seperti kehebohan di masyarakat (koq orang blm kawin bisa punya anak), atau seorang raja yg merasa terancam dgn seorang bayi (yg efeknya jg menghebohkan masyarakat).  Namun, perubahan2 kecil ini seperti pertanda bahwa perubahan yg besar akan terjadi.

.

Tingkatkan kepekaan kita, be aware terhadap perubahan-perubahan kecil / yang dianggap remeh.

.

|

|

Well… mungkin mestinya ini dipisah ya postnya? Panjang juga he3… Langsung aja, daftar post2nya :

1. Recording with Yamaha MW8CX & Ardour in Ubuntu 9.10

Tutorial singkat mengenai salah satu cara merekam audio dengan DAW Ardour di Ubuntu 9.10.

2. Hiromi and The “Pushing Forward” Mindset

Gw lagi demen2 banget sama Hiromi Uehara, pianis jazz (apa “jazz” itu cukup untuk mendefinisikan dia? kyknya tidak) fenomenal dari Jepang. This post is inspired by, and dedicated to her.

3. You’re My Everything (Piano – Melodica – Saxophone)

Gw tertarik dengan sebuah alat musik yang seringkali dianggap hanyalah mainan anak2 sekolahan : melodika/pianika. Ini adalah instrumen yg sangat menarik & sounded really good! Mari terus promosikan penggunaannya di musik2 modern! *semangat45*

4. It’s Between Those Gears and Me

Ini artikel yg me-review singkat produk Roland GAIA SH-01 dan Roland Lucina AX-09, dan pandangan2 ketika membeli peralatan baru. Artikel ini menarik Thomas Porter, Network Editor dari Musicradar.com, dan kita langsung kontak2 via e-mail.

5. Bosan Belajar Saxophone?

Beberapa kali gw ditanyain mengenai kejenuhan / kebosanan dalam belajar saxophone (suatu hal yg sangat wajar). Gw memutuskan untuk tulis satu post khusus tentang ini, dan bukan menggabungkannya di post mengenai tips-tips saxophone yg lain.

6. Me VS Sonny Rollins

Suatu hari gw beli album pemain sax favorit gw, Sonny Rollins, yg Way Out West, yang dibikin saat usianya masih muda (kira2 ga jauh sama gw).. tapi WOW mainnya udah sadis. Ternyata, di album notes-nya, gw menemukan beberapa KEMIRIPAN gw dengan Sonny Rollins. Sangat menyentuh gw, sangat inspiring.

7. Hidup di Atas Sebuah Roda

Sebuah stiker yang ditempel di bus menjadi tema utama post ini… Siapa bilang hidup ini seperti roda? Coba baca ini & renungkan 🙂

8. What’s Next?

Ketika gw memutuskan untuk menjajal soprano saxophone, gw merasa tertarik untuk membagikan pandangan mengenai perkembangan seorang musisi yang dipengaruhi oleh peralatan baru.

9. Mulai Belajar Saxophone (part 3)

Bagian ketiga dari seri “Mulai Belajar Saxophone”, kumpulan pertanyaan yg sering ditanyakan oleh orang2 yang tertarik untuk mulai belajar saxophone.

10. Cerita 10-10-10

Tanggal yang angka2nya membentuk pola tertentu bisa dianggap membawa hoki atau bawa sial. Bagi gw, sebuah hari yg mengandung banyak kejutan inspiratif.

11. Computer Music Production Workshop @ Indocomtech 2010

Hal yg paling menarik gw untuk datang ke Indocommtech 2010 adalah workshop ini. Thanks mas Agus Hardiman yang sudah memberi komentar mengenai artikel ini, baik di blog ini maupun di forum musiktek.com .

12. Beginning The Ear Training

Artikel singkat padat mengenai pengembangan kepekaan telinga terhadap unsur-unsur musik.

.

.

Ok, silahkan dipilih 🙂

Merry Christmas, GBU all!

Cerita 10-10-10

11 Oct

Dari dulu, yang namanya nomor cantik selalu bisa jadi pembicaraan orang:

Tahun 2006, orang pada rame ngomongin tanggal 6-6-06

Tahun 2007, 7-7-07

Tahun 2008, 8-8-08, org2 pada ngomongin apa ya? Gw lupa…

Tahun 2009, 9-9-09

.

Jadi, hari yang dinanti-nantikan tahun ini adalah 10-10-10. Selain cerita dari temen dan baca2 berita mengenai bayi2 yg “dipesan” untuk “keluar” pada jam 10, gw akan cerita mengenai pengalaman-pengalaman unik pada hari itu, yg membuat gw menilai tanggal cantik pada tahun ini lebih memorable buat gw dibanding tahun-tahun sebelumnya.

.

Pertama, gw dijadwal pelayanan di gereja yang kebaktiannya mulai jam 10. Seperti kata pengkhotbah waktu itu, PQRST, seorang penyanyi rohani yg sudah mengeluarkan banyak album, “Ini kebaktian yang tidak akan terulang lagi.”

.

O ya, sorry sebelumnya, bakal ada banyak nama yang disamarkan di post kali ini, he3….

.

Hari itu gw dijadwal sebagai second keyboardist atau sering disebut filler (keyboardist utama memainkan bagian piano). Seperti biasa, gw juga bawa saxophone (kali ini sopran).

Nah, rupanya pak PQRST ini membawa tim musik sendiri. Tidak full, hanya pemain drum, keyboard,….. dan saxophone (alto).

Gw sempet ngobrol sama JKL, pemain saxo-nya. Tanyain, dia main untuk mengiringi PQRST nyanyi saja atau bermain dari awal bareng tim kami. Awalnya dia juga kurang tahu.

Belakangan, setelah gw selesai set-up pre-amp dan clip-on mic, lagi pasang sax neck, dia naik ke panggung. Dia akan main dari awal. Ok, tanpa diminta gw langsung kasih dia pake pre-amp & mic gw. Ini suatu pengalaman baru, karena gw belum pernah bermain bersama pemain saxophone (biasanya gw yg main saxophone). Sambil memainkan bagian strings, orchestra, dan brass section, gw juga bisa belajar dari dia, yang memang mesti gw akui lebih senior dari gw. Dari dia, gw belajar bermain dengan tone yang baik, improvisasi yang (maaf kalau dianggap sombong atau terlalu menyinggung) terlalu aman tetapi manis, cukup masuk dengan konteks. Tidak ada kesan ngotot ingin bereksplorasi dan mudah dicerna dalam konteks musik seperti ini. Terkesan dia bermain dengan “pikiran”nya. Teratur, terarah, terorganisasi. Clean execution.

.

Malamnya, gw bermain piano dalam sebuah resepsi pernikahan. Formasinya piano, saxophone, 1 singer. Ini juga pengalaman berharga buat gw, karena gw belum pernah juga sebagai, pemain piano, bermain dengan pemain saxophone. Sesuai standar yg selama ini dilakukan, tanpa dimintapun gw datang ke tempat acara jam 5 sore. Sepi. Piano juga masih disetem.

.

Ternyata pemain yg lain datang pada mepet. Saxophonist datang sekitar jam 6, dan singer di atas setengah 7. Wow…. Tapi yg lebih WOW lagi pemain saxophonenya.

.

Sekitar jam setengah 6 datang pria agak gemuk, berusia sekitar 30-an tahun (atau awal 40?). Rambut gondrong, dikuncir. Kemeja bagian atas agak dibuka, jadi kyk Rhoma Irama. Gw langsung memperkenalkan diri. Lalu dia tanya :

“Di sini (tempat ini), yang MCnya namanya WXYZ ya?”

“Kurang tau deh, MCnya yang itu sih (kata gw, sambil nunjuk ke MC yg lagi kesana-kemari ngurusin macam2 hal).”

Dia agak bingung sebentar, raut mukanya terlihat ragu2. Belum sempat gw tanya namanya, dia sudah pamit pergi. “Mungkin di ruangan lain ya,” katanya menyimpulkan. Hari itu memang di gedung itu ada lebih dari satu pasangan yang menggelar resepsi. Tenang, gw gak nyasar kok.

Beberapa saat kemudian, MC itu datengin gw.

“Itu pemain saxophonenya udah dateng ya?”

“Bukan ko, dia bilang di ruangan lain, bukan di sini.”

MC itu kyknya agak kaget. Gw juga rasanya gimanaaa gitu, kok jam segini belum ada pemain lain yg dateng sih….

.

Sekitar jam 6 datang seorang bapak, jelas lebih tua dari yang tadi (di atas 50, mungkin mendekati 60). Datang dengan istri dan anaknya. MC itu yg duluan samperin dia. Sebenernya dari jauh gw uda merasa ada yang aneh dengan bapak ini (cara dia berjalan memasuki ruangan dengan keluarganya)… Pas gw deketin, ternyata ada yang sangat unik dengan dirinya….

.

.

DIA TUNANETRA.

.

.

OW.

.

I mean, GREAT.

.

Maksudnya, gw selalu bilang kalo gw senang bermain musik dengan orang2 yang belum pernah gw kenal sebelumnya. Tapi beneran deh, ini bener-bener di luar perkiraan. Gw tentunya tidak meremehkan dia, tapi justru semakin penasaran, ingin cepet2 dengerin dia main (btw, dia main sopran – baby sax). Kenapa?

Dengan keterbatasan fisik seperti ini, orang ini tentunya akan sangat mengandalkan PENDENGARAN dan PERASAAN(feeling)nya. Berbeda dengan gw yg masih bisa terpengaruh / memakai unsur visual dalam bermain musik atau berimprovisasi. Kita tidak bisa membandingkan orang seperti ini dalam hal teknik atau teori, tetapi kita bisa belajar dari pendengaran dan perasaannya dalam berimprovisasi yang begitu murni.

Pak EFGH ini juga sangat ramah, bahkan tidak sampai 5 menit kami ngobrol, dia sudah mengajak berbicara mengenai perbedaan aliran dalam suatu agama (dia seorang Muslim). Tentunya gw tidak akan membahas hal tersebut di sini.

Lewat setengah 7, singer datang. Dia terlihat keheranan juga melihat kondisi pak EFGH. Kita cuma latihan sebentar sekali, mungkin hanya 5 lagu.

Acarapun dimulai, dengan formasi piano-saxophone-singer yang semuanya belum saling kenal, dan salah satunya tunanetra. I say : this is PERFECT (seriously). Seolah-olah ingin membuktikan ucapan gw di atas tadi.

Selama kami bermain, gw belajar banyak dari pak EFGH ini, terutama ide-ide improvisasinya. Selain itu, sampai sekarang gw masih terharu *lebay : on*… bagaimana kami bermain dengan pengertian satu sama lain, singer / gw tidak pernah memberi tanda apapun (atau janjian mengenai urutan lagu sebelum mulai). Semuanya mengerti kapan verse, kalau singer belum mulai nyanyi, gw panjangin intronya. Kapan chorus dan kapan chorus itu diulang lagi. Momen masuk ke interlude dan urutan siapa yang berimprovisasi, sampai ke ending.

.

Di sini gw tidak bermaksud sombong, tetapi justru gw belajar sangat banyak dari wedding gig ini. Pentingnya saling MENDENGARKAN dan MEMERHATIKAN permainan orang lain, sekalipun KAU TIDAK DAPAT MELIHAT MEREKA. *mainin musik2 drama Korea sambil baca statement ini, biar jadi terharu* halaaaah…. Sayang rekaman video dgn laptop gw kualitasnya tidak trlalu baik, suara saxophonenya kurang jelas. Sebaiknya dengan headphone dan cukup konsentrasi untuk menyimaknya.

.

Gw sudah mengenalkan diri ke pak EFGH sebagai pemain saxophone juga (itu juga yang membuat kita semakin asyik ngobrol). Meskipun gw seringkali lebih suka bermain saxophone, entah kenapa gw sangat ingin momen musikal seperti ini terulang di lain waktu.

Gw, dan Pak EFGH di kanan

Akhirnya, ada momen yang sangat memorable untuk diingat di tanggal cantik.