Sesuatu dari “Escape Plan”

11 Apr

Hello, it’s me again. And yes, I’m back. Terlalu banyak cerita yang terjadi selama gue ga di sini… OK, kita mulai dari yang semalam aja ya…

.

.

Pembicaraan dengan seorang teman mengenai masalah-masalah di dalam berbagai komunitas hidup (bisa berupa keluarga, pertemanan sekolah/kuliah/kantor, gereja, dsb.), tiba-tiba membuat gue teringat dengan sebuah film di tahun lalu:

EscapePlan2013movie_zpsef55e8bb1

Sebelum lanjut membahas beberapa hal tentang film ini, sebenarnya masalah apa yang lagi diobrolin?

Dalam suatu komunitas, kita menghadapi orang2 dengan berbagai karakter. Salah satunya, ada orang2 yang mungkin dominan dengan pendapat atau pandangannya, yang kadang kurang kita setujui. Orang-orang seperti ini bisa terlihat kurang mau mendengar, cenderung memaksakan pendapatnya, membuat posisi kita seperti tersudut – gue suka menyebutnya dengan “terpaksa mendengarkan”. Hal ini tentu membuat rasa tidak nyaman, meskipun sebenarnya dengan potensi-potensi tertentu, orang2 seperti ini juga bisa bermanfaat baik bila menempati posisi tertentu di komunitas itu (menurut gue: posisi manajerial, atau juga pemimpin. dengan bekal visi dan misi yang kuat, orang yang “dominan” seperti ini bisa membawa timnya bergerak cepat).

Itu salah satu contoh. Namun, ada banyak hal2 atau orang2 lain yang bisa membuat kita merasa kurang nyaman berada di sebuah komunitas. Lalu bagaimana meresponnya?

.

Kembali ke “Escape Plan” tadi. Film ini bercerita tentang Ray Breslin (Stallone), seorang ahli desain prison security, yang menguji kualitas keamanan suatu penjara dengan sengaja menyamarkan identitasnya sebagai narapidana, masuk ke suatu penjara, dan mencoba kabur dari penjara itu. Suatu hari, dia dapat tawaran job ngetes suatu penjara, dgn bayaran besar, tapi ternyata dia dijebak. Ini film yang seru banget, lumayan sadis buat gue, tapi baru kemarin malem gue bisa pelajari pesan lain yg bisa didapat dari film ini:

  1. Ketika berada dalam suatu penjara, yang pertama dilakukan Ray bukan mengeluarkan semua kekuatan(terutama fisik)-nya, tapi memelajari sebanyak mungkin hal2 tentang penjara itu. Kondisi ruang tahanan, rutinitas dan karakteristik penjaga, kegiatan narapidana2 lain, dll. Banyak hal, sambil dia juga mengalami hal2 ga enak yg dialami napi2 lainnya. –> Meskipun kita merasa ga enak, tertekan, tetaplah berusaha untuk mengambil hal2 yg bisa dipelajari dari komunitas tersebut. Open our ears and senses. Listen and learn first.
  2. Tagline dari film ini adalah “No one breaks out alone”. Dalam usaha kabur dari penjara, Ray tidak pernah benar2 beraksi sendirian. Ada anggota timnya yang membantu dari luar penjara, dan di penjara di mana dia dijebak, ada Emil Rottmayer (Arnold) yang membantu. Ada orang2 “kunci” tempat dia berbagi pengetahuan dan strateginya. –> Begitu juga untuk bertahan di dalam komunitas, sebaiknya kita punya orang2 kunci untuk mendapat masukan2 dan berbagi beban.
  3. Pada akhirnya, tujuan pekerjaan Ray bukan sekadar keluar dari penjara, tapi untuk memberi masukan, desain yang lebih baik. Dia menceritakan proses bagaimana dia bisa keluar, di mana celah2 keamanannya. Dia tidak menggunakan kemampuannya untuk mengeluarkan napi2 lain. –> Setelah banyak belajar, ada saatnya juga kita perlu memberi masukan2, meskipun ada kemungkinan kurang/tidak didengar.

.

Sedang berada dalam situasi “no other choice but to listen”? Manfaatkan itu untuk belajar, dan nantikan kesempatan “break out” 😉

Advertisements

Membuat Ligature Mouthpiece Saxophone

15 Aug

Ada beragam jenis ligature untuk mouthpiece, dari yg standard 2-screw berbahan kuningan atau plastik, 1-screw yang berbahan kain atau kulit, berbentuk seperti rantai yang bisa disesuaikan ukurannya, sampai yang seperti ring: langsung dimasukkan, tanpa sekrup.

Keisengan gw membuat ligature untuk dipakai sendiri, bermula dulu ketika masih memakai mouthpiece Beechler Custom metal 7 di alto. Waktu itu, gw membuatnya dengan pengikat selang gas. Meskipun bekerja dengan cukup baik, gw sendiri akhirnya memang kurang nyaman dengan mouthpiece ini (sekarang sudah dijual). Tahapan pembuatan ligature-nya juga belum konsisten atau pasti.

Seperti yang diceritakan di post gw sebelum ini, sekarang gw memakai mouthpiece R. Reginald Custom yang dibuat oleh JAWA Mouthpiece (Jogjakarta) di alto sax. Mouthpiece ini sangat baik, dibuat sesuai dengan request gw. Namun, masalahnya terletak di ligatur bawaannya. Gw sendiri lupa menjelaskan ke mereka bahwa gw pakai reed tenor sax untuk main alto. Ligatur dengan 1 sekrup yg dibuat terlalu pas, dan ukuran mouthpiece yg lebih gendut daripada mp alto HR/ebonit pada umumnya, membuat gw terpaksa menggunakan ligatur lain untuk mp ini. Inilah yang mendorong gw untuk mencoba membuat ligatur sendiri. Jenis yg gw pilih adalah ring ligature. Kenapa? Karena……………. lebih gampang bikinnya :’) jujur, gw ga jago prakarya. Semua ini hanyalah karena penasaran semata.

Image

Bahan-bahan:

– Nylon cable ties (pengikat kabel)

– Duct tape  (lakban)

– Pita (optional – bisa menggunakan yg lain, setelah mengerti tahap2 di bawah)

– Karet gelang

– Gunting

Kenapa di foto ada banyak benda2 lain? Ehmmm… itu ternyata tidak terpakai :p hehehe…

Tahapan:

1. Ambil mouthpiece yg akan dibuatkan ring ligature (kemungkinan hasil jadi di satu mouthpiece, tidak/kurang cocok dipakai di mouthpiece lain), posisikan reed di mp. Sekali lagi, karena gw biasa main alto dengan reed tenor, jadi di sini gw pakai reed tenor.

2. Ikat dengan pengikat kabel, satu-persatu.

Image

Image

Setelah diikat dengan 2 atau 3 pengikat, seperti di gambar, sebenarnya setup ini sudah cukup enak untuk dimainkan (coba saja). Sayangnya, cara mengikat di atas ini masih kurang baik. Iya, sorry kalau terkesan menjerumuskan….

Kalau kita ikat sampai pas (mentok dengan reed) seperti di gambar, maka nanti ketika semua rangkaian ini disambungkan, mungkin bisa ditarik keluar (dengan paksa), tapi tidak bisa dimasukkan kembali alias kekecilan. Perhitungkan ukuran pengikat rangkaian ligatur (pita) yang turut menambah ketebalan ligatur ke dalam. Jadi, mari kita ulang lagi:

ImageDi sini, gw memberi jarak dengan reed secara bertingkat, mengikuti bentuk body mouthpiece ini yg membesar ke bawah. Untuk mouthpiece yang bentuknya lurus, jarak dengan reed bisa disamakan.

3. Rekatkan rangkaian pengikat2 ini dengan lakban. Gw menempelkannya di depan, di sekitar area logo mouthpiece. Yang penting, semuanya menempel.

4. Tarik ligatur keluar dengan hati-hati, kemudian potong/rapikan sisa panjang pengikat2 kabel.

5. Rekatkan sekali lagi area yg tadi sudah dilakban, kali ini lakban dari bagian dalam. Jadi ditempel dari 2 sisi.

6. Ikat area yang sudah dilakban, dengan tali pita. Tujuannya untuk menguatkan lagi ikatan rangkaian ini, menutupi tempelan lakban, menjadi bantalan tambahan yang turut menguatkan ikatan ligature terhadap reed (JANGAN tambahkan lakban di dalam untuk bantalan, karena akan meninggalkan jejak-jejak lem ketika dipakai. Tambahkan saja ikatan pita.), dan menambah cantik 😉 *halaaaah*

Image

Jadi! “Lho, kok hasilnya dipakai di mp JAWA? Bukan di Selmer SD20 tadi?” Ya, kebetulan ternyata bisa muat juga :p ….Nah, hasil ikatan pita di tengahnya seperti itu. Gw yakin, temen2 bisa bikin lebih rapi :’)

Hasil dari ligature yang bentuknya kalau gw amati mirip2 dengan Rovner Star ini, menurut gw karakter suaranya cukup dark, dengan respon yg tetap baik, tidak terlalu  tertahan-tahan. Ini opini gw.

…..

Sudah selesai? Belum, gw masih penasaran dengan kesalahan gw di awal tadi. Gw rasakan, dengan posisi antar pengikat yang lebih berjarak dan lebih sedikit, hasil suaranya louder, brighter, dan responnya lebih enteng lagi. Dan mulailah gw mencoba membuat satu lagi, yang modelnya seperti ini.

Tahapan:

1. Ambil mouthpiece. Letakkan 1 pengikat secara vertikal, sebagai rangka di tengah depan mouthpiece. Ikat sedikit bagian bawahnya dengan karet gelang, untuk sekadar menahannya.

Image2. Posisikan reed di mp seperti tadi, ikat dengan pengikat (dengan berjarak dengan reed), kali ini 2 pengikat saja, atas dan bawah.

3. Rekatkan rangka dengan 2 pengikat ini, dengan lakban.

Image

4. Tarik keluar ligatur dengan (lebih) hati-hati. Rangkaian ini lebih “rentan” dibanding yang pertama tadi. Rekatkan rangka bagian dalam dengan lakban.

Image

5. Potong/rapikan sisa panjang pengikat kabel, ikat bagian rangka dengan tali pita. Hati-hati, jangan sampai miring sebelah. Jarak antar pengikat mungkin akan sedikit berkurang, tidak apa-apa.

Image

Kedua jenis ligature siap digunakan! 😀 Masing2 karakternya berbeda. Seperti perkiraan gw, yg 2-ring lebih bright, loud, dan responnya lebih enteng.

Dengan berbagi tips ini, gw tidak bermaksud mengatakan bahwa ligature ini pasti lebih baik dari ligature yg umum dijual. Semuanya kembali ke kenyamanan dan selera masing-masing pemain, yang tentunya sangat subjektif. Ligature yg gw buat ini, bekerja dengan baik untuk gw (dan murah.. hahahah), belum tentu untuk orang lain. Tertarik mencoba?

Someone To Watch Over Me

27 Jul

Kemarin malam, gw merekam sebuah lagu dari George & Ira Gershwin, Someone To Watch Over Me. Salah satu ballad favorit, yang juga menyimpan beberapa kisah :p ide untuk merekam lagu ini, termasuk aransemen dan cara merekamnya, muncul secara tiba-tiba, setelah menjalani hari yang sebenarnya not my good day. Hal-hal yang kurang enak yang kita alami bisa menjadi inspirasi, selama kita tetap mau mendengar dan melihat sekeliling dan juga hati kita, tidak hanya fokus ke masalah-masalah itu. Dan inspirasi itu kadang (atau sering) perlu secepatnya dieksekusi, sebelum terlewatkan.

Beberapa fakta tentang rekaman ini:

– Semua instrumen (cajon, electric bass, keys, sax) direkam secara live, tidak pakai MIDI. Dan semuanya gw yg main 😀

– Di alto saxophone, gw pakai R. Reginald Custom wooden mouthpiece yang dibuat JAWA Mouthpiece, Indonesia.

– Untuk keyboards, gw pakai Casio CDP-200R (suara electric piano) dan Roland Juno-G (suara lainnya: strings, orchestra, bells)

– Gw merekam electric bass (Yamaha BB 414) dengan cara mic ditodong ke amplifier Roland KC-150.

– Electric piano direkam dengan 2 tracks: 1 direct, 1 mic ditodong ke ampli tadi.

– Gw menggunakan 1 mic untuk semua keperluan di rekaman ini (cajon, bass, key, sax): Nady SCM 900.

Demo – R. Reginald Custom Alto Sax Wooden Mouthpiece (by JAWA Mouthpiece, Indonesia)

25 Jul

Ya, betul… ini mouthpiece custom pertama gw. Mouthpiece pertama yg dibuat karakternya sesuai pesanan gw. Sekaligus, ini pertama kalinya gw memakai mouthpiece kayu.

Image

Sekitar seminggu setelah dipesan, mouthpiece ini sampai ke rumah gw, dari JAWA Mouthpiece di Jogjakarta. Mouthpiece ini datang dengan kelengkapannya kantong kain, kain lap, dan ligature. Sayangnya, ligature ini ngepas banget ukurannya (Gw terbiasa pakai reed tenor untuk main alto. Tapi, ligature ini muat di mouthpiece alto gw yg lain.), jadi gw pakai Rico H-ligature di mouthpiece ini. Reed: Legere Classic #2 tenor sax.

Pesanan awalnya, gw mengharapkan mouthpiece yg suaranya dark & fat, dan easy blowing. Tapi, gw mendapat “bonus”, mouthpiece ini ternyata lumayan loud, powerful juga. Karakter-karakter dari hasil akhirnya cukup memuaskan gw, tapi tetap masih ada hal2 yang perlu diuji seiring dengan lama pemakaian, terutama karena bahannya kayu. FYI, blog post ini gw buat sekitar seminggu setelah mouthpiece ini sampai di rumah. Dalam waktu itu, gw sempat merasakan perubahan2 intonasi dan tuning. Mouthpiece yg gw pakai sebelumnya (Selmer SD20) terasa lebih stabil daripada mouthpiece ini.

Terlepas dari plus-minusnya, ini mouthpiece yg keren dengan ukiran2 dan tambahan ring di bawahnya. Harganya juga termasuk murah untuk custom mouthpiece. Gw berharap JAWA mouthpiece dapat segera membuat custom mouthpiece dengan bahan ebonit dan/atau metal. Keep up the great work!

Demo singkat dari mouthpiece ini:

Natal, Supir Taksi, dan Hadiah

25 Dec

Tadi pagi – lumayan pagi, sekitar setengah 5 – gw nge-twit serangkaian renungan Natal. Gw pikir2 lg, gw itu nge-twit kepagian banget, kemungkinan besar banyak dari temen2 yg blm sempat baca dan tentunya males banget kan ngubek-ngubek timeline gw entar2 hahahahah.
.
Jadi, ini gw masukin lg di sini, supaya lebih gampang dibaca. Ada screenshot dan copy-paste twitnya. Merry Christmas, GBU! 🙂

natal2012

Note: karena ini blog, jadi kopian tweets-nya gw panjangin/ga terlalu disingkat-singkat, supaya lebih gampang dibaca.

1. Renungan Natal sedikit ah, sambil siap2 utk pelayanan pagi ini… Terinspirasi dr khotbah yg gw denger sabtu lalu 😀

2. Selama ini mungkin kita sering, dgn kekuatan sendiri, berusaha untuk ‘menerima’ dari Tuhan. Memang kita akhirnya terima, tapi apa itu menyenangkan Tuhan?

3. Seperti ini: ada supir taxi yg sengaja pilih jalan yg lebih jauh, supaya dapet bayaran lebih gede. Tentu dia akan dapet, karena dia brusaha, tapi..

4. ..tapi apakah itu akan menyenangkan gw , sebagai penumpang? Tentu gw akan lebih senang memberi lebih kalau dia ramah, nyetir dgn baik, helpful.

5. Ya, sepertinya begitu juga dengan Tuhan. Mari kita berusaha untuk memberi ke Tuhan. Ada 1 contoh lg, tentang orang2 majus…

6. Orang2 majus itu… Apakah mereka melakukan perjalanan yg sangat jauh, memberi hadiah barang2 berharga, untuk seorang raja? Kenyataannya tidak lho.

7. “raja” itu sesuatu yg mereka yakini,imani. Yg di hadapan mereka waktu itu adalah ANAK. Dan mereka SADAR, belum akan melihat raja itu sebagai raja. WOW

8. Ya, mereka melakukan semuanya itu, untuk sesuatu yg BELUM terjadi. Untuk sesuatu yg mereka PERCAYA. Gimana kalo misalnya mereka ternyata salah?

9. Jadi yg lebih spesial dari hadiah mereka, adalah bagaimana mereka memberi hadiah itu. Gimana dengan kita? Merry Christmas, tweeps 🙂

Seminggu Lalu dan Hari Ini

5 Nov

Post gw sebelum ini adalah di bulan Mei 2012, itupun cuma tentang jualan (setelah ini gw juga mau posting jualan lagi sih :p hehehe). Waktunya bersihin sarang laba-laba, rayap, debu, dan sisa2 makanan #ehhh ….

.

Jadi, apa yg membawa gw kembali ke sini?

Ada berbagai ups and downs sepanjang September – Oktober ini dan semuanya berlangsung lumayan cepat. Nah, di minggu kemarin gw melihat, merasa, mendengar beberapa hal yg seperti menjadi pelajaran buat gw, mungkin semacam jawaban juga. Mudah2an bisa bermanfaat juga buat temen2.

.

1. Berpikir di Luar Kotak

“Berpikir di luar kotak” bukan hanya dalam problem-solving. Dalam beberapa waktu belakangan, gw semakin melihat perlunya ini diterapkan dalam pergaulan juga. Hidup bukan sinetron. Orang tidak bisa dikotakkan dalam kategori “selalu baik”, “selalu jahat”, “selalu benar”, “tidak berguna”, “menyebalkan”, dan kotak-kotak lainnya. Setiap pribadi itu unik, dan rasanya lebih baik kita belajar untuk melihat dari sudut pandang orang lain juga. Kalau sudah begini, lama-lama “kesan pertama” semakin kurang relevan. Butuh investasi waktu yg lebih, untuk memelajari dan menilai orang. Ini juga berarti menyiapkan hati kita, untuk sewaktu-waktu dikecewakan/disenangkan oleh orang yang tidak kita duga.

 

2. Bicara Lebih Banyak, Bicara Lebih Sedikit

Ini dua hal yg berbeda, yg mesti lebih dipelajari timing-nya, kapan pakai yg mana. Di satu sisi, mesti lebih berani sampaikan ide, kalau kita memang bener2 mau lakuin itu atau kita mau itu terwujud. Di sisi lain, meskipun kita tahu banyak, tidak berarti kita harus bicarakan semuanya karena sangat rentan jadi keluar konteks. Hati-hati batas antara tahu banyak, sok tahu, dan pamer pengetahuan. Know when to talk more, talk less, and maybe even more important…. listen more.

 

3. Hidup Terus Berjalan

Tidak peduli seberapa senang/kecewa/marahnya kita dengan kehidupan kita sekarang, umur terus bertambah (atau tiba2 berhenti). Jadi, teruslah berpikir ke depan. Masa lalu itu seperti kaca spion, membantu kita memosisikan diri, tapi untuk bergerak maju tentu kita harus melihat ke depan. Bukan hanya tentang hidup kita, tapi juga berpikir ke depan ketika memandang orang lain (mirip2 poin 1 tadi).

 

4. (Otomatis) Menjadi Inspirasi

Orang2 selalu menilai kita. Selalu. Kita mungkin bisa merasa hideous, invisible. Tapi dalam setiap interaksi kita dengan orang lain, mereka akan menilai kita. Yang unik, jangan berusaha terlihat baik… Tapi jadilah baik. Do what you mean and mean what you do. Kadang (atau sering) kita tidak sadar, hal-hal kecil yg kita lakukan dgn baik, bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Yg lebih membingungkan lagi, “kebodohan”/”kekonyolan” kita pun bisa menarik atau menginspirasi orang lain.

.

.

.

4 poin itu dulu ya… tadinya gw mau cerita lebih banyak (tadinya judulnya “Seminggu, Setahun, 24 Tahun”), tapi gw pikir2 lagi mungkin lebih enak dipisah di post yg lain hehehe.

Terima kasih untuk teman-teman lama dan baru yang tanpa sadar telah menginspirasi gw untuk nge-blog lagi.  🙂 shoutout to Maddy! :p

Fly Me To The Moon (In Other Words)

3 Aug

Whew… Setelah sekian lama ga bikin blog post atau meng-update blog  *bersihin debu dulu*…. Well, I’m back.

Banyak banget sebenernya terjadi hal-hal yang menarik  selama gw “meninggalkan” blog ini. Banyak hal telah berubah… Misalnya sekarang gw udah pake Blackberry.

But ok, let’s save those stories  for now.

.

.

Pada tanggal 31 Juli kemarin gw sudah bersiap-siap memasuki bulan Agustus dengan ceria, meskipun ini jelas melanggar lagu “September Ceria”. Ada beberapa perencanaan yang udah gw siapin.

Ternyata, apa yang terjadi? Gw memasuki hari pertama, kedua, dan ketiga dengan sakit. Urrggghh. Termasuk ketika lagi nulis ini? Ga sih, gw sekarang uda seger koq, besok udah mau fitness lagi.

.

Hari ini, tadi ketika mendekati jam 9 malam, gw baru aja selesai latihan piano. Tiba-tiba kepikiran : udah lama ya ga ngerekam solo piano? Jadi mau coba ngerekam deh. Tadinya niat rekam antara “Misty”, “That’s All”, atau dua2nya (medley).

Namun, sambil mikirin intro, tiba2 gw diam, dan terpikir untuk mainin lagu lain. Dan jadilah gw memainkan dan merekam lagu ini dalam 3x take (take pertama dan kedua untuk membenahi intro-nya). Tidak ada catatan, semua mengalir saja….