Tag Archives: belajar saxophone

Essential Sax Accessories and A Little Note About Brands

29 Oct

Cukup lama juga gw belum post artikel2 baru lagi di sini…

Beberapa waktu lalu, ada yang bertanya beberapa hal tentang saxophone lewat e-mail. Setelah mengirimkan balasan, gw baru sadar kalo apa yg gw kirim itu ternyata lebih mirip blog post ya… Jadi gw masukkan juga ke blog ini:

 

“Halo mas robert, kenalin saya XYZ dari Palembang, umur saya sekarang 18th masuk 19th, saya sekarang ingin belajar saxophone namun disini sangat jarang sekali yang bisa memainkannya, sampai kursus nya pun tak ada, jadi saya memutuskan untuk belajar sendiri sembari menunggu guru, dan sebaiknya menurut anda apa saja aksesoris yang diperlukan untuk pemula? Dan apakah merk sebuah saxophone mempengaruhi kualitas?
Terima kasih atas waktunya.”

 

Jawab:

Halo.. sorry baru balas sekarang 🙂 Oow, teman2 yg pmain saxo kayaknya banyaknya di Medan ya hehehe tapi secara umum memang trend saxo sedang cukup meningkat di banyak daerah, semoga ga lama lagi makin rame juga di Palembang.

Untuk aksesoris, beberapa yg penting:

Mouthpiece

Biasanya, mouthpiece bawaan dari saxo, sudah cukup baik untuk belajar. Tapi, biasanya yg bawaan dari saxo taiwan atau china, kualitasnya kurang konsisten. Umumnya, banyak yg merekomendasikan mouthpiece Yamaha (4C atau 5C) atau Rico (A3 atau A5) untuk belajar.

Ligature

Pengikat reed di mouthpiece, biasanya yg bawaan dari saxonya sudah cukup baik. Kalaupun rusak dan sulit dibetulkan atau dicari gantinya, bisa dibuat sendiri dengan pengikat2 kabel atau velcro.

Reed
Sebaiknya siapkan lebih dari satu reed, misalnya 3-5pcs reed. Pemakaiannya dirotasi setiap latihan (bukan dipakai “satu sampai habis”), supaya lebih awet. Lebih bagus lagi kalau reed dilabel/dinomori supaya ingat urutan rotasinya. Biasanya utk awal belajar, pakai ukuran reed 2 atau 2.5. Nantinya, ukuran ini disesuaikan juga dengan ukuran mouthpiece, selera suara, dan kenyamanan mainnya (bukan berarti mesti “kejar nomor ukuran” seberat2nya hehehe).

Cork grease

Semacam minyak untuk melicinkan gabus di neck, supaya lebih mudah masukkin mouthpiece. Bisa juga dipakai di ujung neck, kalau neck agak sulit dimasukkan ke body. Selain cork grease merek2 tertentu seperti Rico, bisa juga pakai semacam Vaseline.

Kain / sikat pembersih

bisa pakai pad saver (semacam kemoceng) atau cleaning swab (kain yg diikat tali ujungnya, bisa juga dibuat sendiri). Cleaning swab umumnya lebih optimal utk bersihin bag dalam saxo, tapi pad saver lebih praktis dipakenya hehehe. Ada juga sikat untuk mouthpiece, dan sikat utk neck. Kalau sulit carinya, cukup cari sikat neck aja, bisa dipake utk mouthpiece juga.

Strap

Setiap latihan / perform, terutama kalau main alto atau tenor, selalu pakai strap. Pastikan setel panjangnya yang nyaman, cukup membagi beban dengan pundak/leher kita, jadi jempol kanan lebih utamanya utk mengarahkan alat ke kita, bukan menahan beban. Leher juga jangan sampai terlalu turun.

Ada aksesoris2 lain yg membantu juga, seperti powder paper untuk membersihkan pads yg lengket, supaya lebih lancar buka tutupnya, mouthpiece patch/cushion untuk melindungi bagian atas mouthpiece dan agak meredam getaran gigi ketika main (posisi mulut jadi lebih stabil, tidak terlalu licin), dll.

Merek saxophone menentukan kualitas? Ada benarnya, misalnya merek Selmer, Yamaha, Yanagisawa, Keilwerth, Conn… ada merek2 seperti yang memang sudah terkenal lama dgn produksi sax yg bagus2. Tapi, ada juga merek2 buatan Taiwan/China/Vietnam yg kualitasnya cukup ok untuk belajar (perbandingan harga dengan kualitasnya), seperti Zeff France, Maxtone, Hermes,dll.. Yang penting, kondisi saxnya sehat.
Memang, student sax buatan Taiwan atau China ada juga yg kualitas produksinya kurang konsisten, kadang ditemukan satu atau dua kekurangan pada barang barunya. Tapi dengan diservis sedikit, siap untuk latihan dan manggung lagi. Ada juga pedagang2 sax yg juga teknisi, jadi ketika barang datang, sudah mereka cek dan servis. Kalau saya, biasanya sax yang mau saya jual, kalau saya rasa ada yg kurang enak, dibawa servis ke pak Jimbot (teknisi senior di Jakarta, sering menangani saxo pemain2 senior).
Jadi, merek bisa menentukan kualitas, tapi ada juga merek2 yg mungkin ga terlalu terkenal, tapi kualitasnya bisa di atas harganya 🙂
_________
Pertanyaan di atas termasuk cukup umum, dan beberapa jawaban dan penjelasannya seinget gw ada di beberapa post gw dulu. Tapi gw tetep post ini, utk refresh aja. Dan untuk menyemangati gw, lebih banyak menulis lagi :p
Advertisements

Meyer 7M vs D’Addario Select Jazz 6M

20 Apr

Setelah dalam beberapa tahun ini mencoba berbagai mouthpiece alto sax, 2 mp yg paling saya suka adalah Meyer HR dan Selmer Soloist. Pernah punya Meyer Richie Cole 5M (sold) dan Selmer Soloist (E dan C** – dua2nya sold), dan masih agak nyesel kenapa waktu itu dijual.

Sekitar 4 bulan terakhir, saya pakai Meyer 7M (produksi saat2 ini, bukan yg vintage). Waktu pesan mp ini, sebenarnya saya agak ragu mau ambil ini atau D’Addario (yg beli Rico) Select Jazz. Apalagi harganya berdekatan.

Beberapa hari lalu, ketika jalan2 di MG Pondok Indah, saya menemukan ternyata DA select jazz ini dijual juga di sana. Seingat saya, biasanya mp Rico yg mereka jual hanya seri Graftonite dan Metalite. Tergoda, akhirnya saya beli juga.

Sampai di rumah, langsung dicoba dan sangat cepat merasa familiar. D’Addario berhasil menghadirkan Meyer di mp ini. Saya pernah mencoba beberapa merek lain yg juga berusaha recreate Meyer, tapi ternyata lebih terasa karakter merek tersebut. D’Addario surely done a great job.. with a few notes. Berikut ini saya bandingkan Meyer 7M saya dgn DA select jazz 6M.

Dalam paket penjualannya, DA Select Jazz hanya menyertakan mp saja, tidak diberi ligature dan cap seperti Meyer.

Untuk baffle, menurut saya, Meyer bafflenya sedikit lebih tinggi dibanding DA.
Tip rail – Meyer lebih tipis daripada DA
Overall finish – Meyer lebih smooth rapi, DA lebih kasar di bagian dalamnya.


(bore dan chamber Meyer)


(bore dan chamber DA Select Jazz)

Chamber – sama2 round, tapi DA lebih rapi bulatannya.
Bore – DA lebih kecil lingkar badannya daripada Meyer. Terasa lebih sempit ketika dimasukkan ke neck cork.

Berikut ini video demo singkat saya, dengan sax Selmer Model 26, ligature standar Meyer, dan reed Legere Standard #2.5 tenor sax.

Sebagai tambahan, ini review dari majalah Downbeat, Maret 2015:

Mulai Belajar Saxophone (part 3)

23 Sep

Ini dia bagian ketiga dari kumpulan beberapa pertanyaan yg sering diajuin ke gw tentang mulai belajar saxophone:

#6. Mulai belajar pakai sax tipe apa?

Untuk mulai, tipe yang paling banyak disarankan adalah alto. Tenor sering dianggap agak terlalu berat, baik secara fisik alatnya maupun breath support yang diperlukan. Sopran lebih ringan dari alto (fisik dan breath support), tapi memerlukan pitch dan tone control yang lebih baik (bisa agak intimidating bagi pemula, bahkan intermediate player).

Alto sering direkomendasikan karena berada “di tengah2” dua jenis ini, not too heavy, not too easy, not too hard… Selain itu, harga alto relatif lebih murah untuk merk yang sama dan range produk yang sama (bandingkan alto untuk beginner dengan tenor untuk beginner dari merk yang sama). Ketika suatu waktu nanti memutuskan untuk “pindah” ke jenis saxophone lain, alto bisa tetap disimpan; bisa digunakan untuk mengajar.

Meskipun begitu, belajar saxophone sebenarnya bisa dimulai dengan tipe apa saja, dengan niat dan semangat.

#7. Saya belum pernah belajar musik / memainkan alat musik… Apa bisa belajar saxophone?

Ya, bisa. Memainkan alat musik apapun, secara mekanikal bisa dipelajari tanpa pengetahuan akan musik / alat musik lain sebelumnya. Namun, melihat perkembangan ke depannya, gw merekomendasikan untuk memahami (tidak harus sampai level master / sangat mahir) alat musik lain, terutama piano atau gitar.

Sebuah saxophone hanya menghasilkan permainan melodi. Padahal, untuk survive, jika ingin meneruskan lebih dari sekadar hobi, diperlukan pemahaman yang baik akan aspek lain seperti harmoni, chord, dan ritme, yang agak sulit dipelajari dengan saxophone saja.

Jika merasa ragu untuk memelajari piano / gitar, entah karena biaya tambahan untuk mengadakannya atau tambahan waktu yg signifikan untuk latihan, melodika/pianika bisa jadi alternatif yang baik.

Sisi positif menggunakan melodika/pianika :

1. Harga relatif murah. Sekitar 100an ribu. Tipe teratas keluaran Yamaha Rp 420.000,00.

2. Mudah didapat. Di toko-toko bukupun biasanya ada.

3. Mudah dimainkan, breath support yang dibutuhkan tidak sebesar saxophone. Tutsnya pun ringan.

4. Dapat memberikan gambaran mengenai sound akor dan harmoni.

Namun, ada sisi negatifnya juga :

1. Tidak dianjurkan untuk menyetem dengan pianika, apalagi pianika yang murah. Biasanya not-not pianika tidak dalam penalaan yang equal / sama. Mainkan not C, bandingkanlah pada oktaf yang berbeda. Jika dimainkan bersamaan (misal C2 dengan C3), akan terdengar seperti terdapat efek chorus. Untuk menyetem melodika, ada cara tersendiri.

2. Embouchure dan teknik meniup yang berbeda bisa menyulitkan pemula (ketika kembali lagi ke saxophone). Perlu waktu untuk penyesuaian jika sering latihan berganti-ganti instrumen. Saxophone bisa terasa jauh lebih “berat” / kurang familiar, atau sebaliknya.

Sekali lagi, jawaban dari pertanyaan ini : bisa :).

#8. Berapa lama sebaiknya latihan sehari? Apa saja yang (minimal) dilatih seandainya tidak punya banyak waktu?

Biasanya gw latihan sekitar 30 menit – 1 jam sehari. Kadang (misalnya ketika latihan sopran) bisa sampai 2 jam.

Setiap orang bisa memiliki tingkat penyerapan materi yg berbeda, tetapi gw menyarankan latihan2 tidak dilakukan langsung (cth : 2 jam), tapi dibagi misalnya 2×1 jam atau 3×40 menit. Jangan terlalu memaksakan diri, karena dapat berakibat cedera. Selain itu, biasanya kemampuan penyerapan materi akan cenderung menurun. Misal dalam 1 jam kursus / latihan, “waktu efektif” seringkali sekitar 30-50 menit.

Jika tidak punya banyak waktu (misal 20 menit), kita bisa memanfaatkannya dengan latihan seperti ini :

5 menit -> memasang dan merapikan kembali saxophone, termasuk membersihkannya.

5 menit -> 2 sampai 4 tangga nada, dimainkan naik turun secara biasa dan dengan interval (misal tangga nada C : C1-C1, C-D, C-E, C-F, C-G, C-A, C-B, C1-C2)

5 menit -> arpeggio pola 1-3-5 (misal: di C -> C-E-G, E-G-C, G-C-E) atau pola lainnya, naik dan turun sesuai range jenis saxophone yang dipakai. Di 2 tangga nada.

5 menit -> long tones. 3 not di register yang berbeda : low, medium, high, dari range jenis saxophone yang dipakai.

Sebaiknya tidak melakukan semua latihan di atas dengan terburu-buru. Perhatikan juga kualitas tone yang dihasilkan.

#9. Bagaimana dengan aksesoris-aksesoris? Apa saja yang diperlukan dan ukuran-ukurannya?

Jujur, terkadang harga aksesoris saxophone bisa membuat kening berkerut. Beberapa di antaranya terkesan kurang masuk akal. Neck strap Rp 80.000 – lebih dari Rp 200.000? Cleaning swab – kain yang diberi rangka dan tali untuk membersihkan bagian dalam saxophone- bisa di atas Rp 400.000 ? Reed -potongan kayu kecil yang diikat/jepit di mouthpiece, seperti senar pada gitar- yang harganya sekitar Rp 300.000-an ke atas untuk 1 box isi 10 pcs? Mungkin agak “menyeramkan”.

Aksesoris yang penting :

Mouthpiece *

Reed *

Ligature *+

Neck strap *+

Cleaning swab / pad saver +

Cork/mouthpiece brush +

Cork grease *

* : Biasanya sudah disediakan / satu paket ketika membeli saxophone baru.

+ : Bisa “diakali”, dibuat sendiri.

Neck strap bisa dibuat dari tali tas travel (dijahit untuk memudahkan menyesuaikan ukuran).

Cleaning swab bisa dibuat dari kain polishing (biasanya termasuk dalam paket) yang ujungnya diikat tali, tapi sebenarnya lebih baik kalau ada rangka fleksibelnya, yang mengikuti bentuk saxophone.

Cork/mouthpiece brush bisa dibuat dari sikat bergagang kecil dan fleksibel (bisa dibengkokkan, untuk mengikuti bentuk leher saxophone), tapi sebaiknya tidak menggunakan sikat bulu2 yang semuanya kasar. Modifikasi boleh dicoba.

Untuk ligature, ada teman yang pernah “mengakali” dengan beberapa tali pengikat kabel. Gw belum pernah coba dan sejauh ini tetap merekomendasikan saxophone ligature, tapi ini bisa jadi ide yang bagus dalam keadaan darurat.

Untuk mouthpiece, biasanya yang standar diberikan dalam paket adalah ukuran (nomor) kecil, yang cukup untuk “mengenalkan” teknik embouchure dan breath support untuk pemula. Sebaiknya gunakan mouthpiece ini selama beberapa bulan sampai setahun, sebelum berpikir untuk mengganti mouthpiece.

Untuk reed, dalam paket biasanya diberikan 1 potong reed, berukuran 2 atau 2.5 Rico. Ukuran yang cukup umum dipakai adalah 2 untuk pemula, 2.5 atau 3 untuk intermediate sampai pro (ukuran Rico). Untuk merk Vandoren, biasanya lebih tebal ½ nomor dari Rico. Lebih jelasnya dapat dilihat perbandingan ukuran berbagai merk reed di sini.

Oleskan cork grease pada neck saxophone baru / ketika menggunakan mouthpiece baru, supaya tidak perlu menggunakan tenaga berlebihan (bisa merusak alat) ketika memasukkan/mengeluarkan mouthpiece dari neck.

Diary : Me and My Soprano (Part 4)

13 Sep

It’s been a week, and here’s my progress, taken from my tweets :

Missed practicing soprano sax yesterday….1:23 AM Sep 8th via web

just finished recording some ii-V-I, practicing licks & testing (again) clip-on mic positions.12:55 AM Sep 10th via web

far better intonation on a soprano in a week,& very surprised whn I play alto again:I feel better too!now lightly practicing them bfr dinner6:56 PM Sep 11th via web

kalo tangan kanan lg pegel,coba pake mouse komputer di sebelah kiri.. trnyata ga sulit, tp blm gw coba sh di app grafis…8:21 PM Sep 11th via web

The last one is in Indonesian; in English I said : “when your right arm is tired, try using the computer mouse with your left-hand.. It’s not too difficult, but I haven’t tried it for graphic apps.” My right hand is tired after practicing soprano sax for hours… But it’s okay, now I’m getting more familiar with it, in fingerings, the tone-producing concept (the pitch too), and the more comfortable way to hold it (for the curved neck).

In the new week after “that Sunday”, actually I missed a day (not practicing soprano), but manage to practice harder the rest of the week, it’s 2 hours per day in about 3 x 40 mins (breaks are important 🙂 ).

Not giving up, I decided to play it again last Sunday. I served in 4 services, playing soprano and additional keyboard (strings & synths). It sounds far better, although when the monitor wasn’t “enough”, I still tend to overblow/overbite. With alto, although it’s still not a good habit, the tone wasn’t degraded as much as with soprano.

Another point : watch those speedy licks. It’s true that it’s easier to blow a soprano, and its keys are lighter too. It’s like a car with better acceleration. Always remember that speeding up would sacrifice the tone quality; it’s one of the reasons why we need to keep developing our tone : so it won’t be too bad when we’re speeding up 😛 .

.

.

About the miking, for now I choose to point my clip-on to the inside of the bell, pulled it out a bit. I found that given the shorter mic’s neck, the sax’s sound would be darker, but lacked “punch” that I’d need in live playing.


Diary : Me and My Soprano (Part 3)

6 Sep

3 September 2010

————————

Still repeating the routines : changing necks, tunings, pentatonic practice,… And variations on clip-on mic placement. Still fighting with the tuning. Lesson learned : you can’t tune a soprano in just one day, since you’re on the process of forming better soprano embouchure. I may think I’m fine today, but the next day it’s just changed somehow. Keep the hardwork.

Another point, like I can apply the soprano Yamaha mouthpiece patch on an alto, the alto patches also can be applied on my soprano mouthpiece. I use the thicker, orange one  :

4 September 2010

———————–

Just one day left! Question of the day is : Am I ready? Digged more Kenny G tunes (I even made a simple minus one of “Songbird”) and practice harder.  Again, I did this to learn some sweet phrases quickly. Yeah, I promise I would study more with Berklee’s (The “Get Your Band Together” series, one book for Tenor & Soprano) & Steve Lacy’s book (“Findings : My Experience On Soprano Saxophone” – intermediate & pro method, I think). Just for this Sunday…

In the evening, I got a message that for the morning’s service tomorrow I have to sub a keyboard player. And so I dared myself playing this horn on the afternoon’s service. I also filled in as the second keyboardist.

5 September 2010

———————–

Before I’m going, I still haunted with the same question : Which horn? Safer with alto, or dare myself to bring this soprano? I choose the latter.

So, what happened?

Some false notes occured on some first songs. Sometimes I moved my hands from sax to synth not just to enhance the song, but also to “cover” those faults. Later I improved the tuning by pushing & pulling the mouthpiece and apply some more vibrato.

Lessons learned : vibrato is very important on soprano. You don’t have to do it like Sidney Bechet, but do it to improve the tuning (if it’s missed slightly; still have to adjust the mouthpiece when you’re way too flat or -especially- too sharp). Also, while playing, keep the notes on your mind. For example, you want to sound an A. Don’t just do the fingering and really sure that note would come out easily. Listen to the sound you’re producing, watch your pitch.

I should admit that I didn’t win this time. 4 days weren’t really enough, though I’ve played alto for more than 4 years.

Diary : Me and My Soprano (Part 2)

3 Sep

2 September 2010

————————-

The second day on my soprano, I’m still striving for better tuning, doing some major scale like yesterday. This time I also used a sine-wave track from the Berklee book (the book covers both tenor and soprano saxophone), it plays a continuous Bb (again, all the notes and pitches I’m talking about are in concert pitch, not the saxophone’s pitch). Quite helpful, the process didn’t take as long as yesterday.

Now, I’m getting more familiar with the Vandoren Java reeds, but for now maybe better stick to the Rico Jazz Select first. My goals are improving my tone, getting used to the fingerings (not really new and it’s the same on all kind of saxopones but when I finger a C on alto, it would sound a G on soprano), getting more comfortable with various necks (& strap adjustments) and experiment with various mic placement. By the way, I forgot to include the September 1st’s recording, here it is :

“Don’t Get Around Much Anymore” (right-click and save as)

Like I said yesterday, this was recorded with a Shure SM58 pointed down to the bell (body, not the hole). Note that it’s my first day; mistakes may apparent 😛

.

.

The main challenge for today (besides the day’s goals) is to sound more “modern”, “catchy”,…. whatever. More explicit, everyone in the home wants me to sound like Kenny G. I accept this “Trial of Kenny G” challenge and am hoping to gain 10000 EXP from this quest (like we’re on computer games LOL). This is also a warning for those who decide to learn soprano saxophone these days : to be more “accepted” (in most cases) you have to try to produce Kenny G-ish tone (they don’t care about your setups). I’m not sure your friends or family would be happy if you’re aiming at legends like Steve Lacy, Wayne Shorter, David Liebman, or Bennie Maupin first. And they may get mad when you’re listening to some of Sidney Bechet’s. Sad but true.

On the other hand, Kenny G is not all that bad. I’m not talking about the sales here, but there are some (or maybe more?) things I think I can learn from him, like simple and sweet phrases (but I’m trying hard not to be too repetitive).

I practiced about 2 hours (in 3 x 40 minutes, a more effective way than straight 2 hours – for me), not including the recording I made in the night. this time I used my current live setup : Samson HM40 clip-on and Behringer Tube Ultragain Mic100. First, I’m trying to clip it on the side of the bell, pointed to the inside. Snake charmer style. Then I clip it to the upper side of the bell and point it toward the upper body. I got the quite close sound like yesterday.

.

So, for this recording, I choose to clip it the first way, but I pull it a bit further from the inside. Sounds better (and closer to Kenny G or smooth jazz style), here it is :

Nothing’s Gonna change My Love For You (right-click and save as)

Surprised? I do, even more! This proves those sayings that “on soprano, what the audience heard may be different than what you play”.. I mean, okay I need to improve the fingerings, but I almost can’t believe that I would sound like that (by the way, the reverb is slightly more than yesterday’s recording).

At the end of the day, I also feel much comfortable with the curved neck & the neck strap…. Way to go, two days before Sunday!

Diary : Me and My Soprano (Part 1)

2 Sep

1 September 2010

———————–

My soprano saxophone arrived! Very excited since it’s my first date with it 😀 . Ordered it about 3 weeks ago along with some accessories, here’s the list (and photos) :

– Antigua SS3286BQ soprano saxophone

– Selmer Super Session F mouthpiece

– Vandoren Java #2 1/2 reed, a box of 10

– Rico Jazz Select #2M filed reed, a box of 10

– Rovner Light L3 ligature

 

the hardcase, with keylocks

the horn (with 2 necks option) & other accessories

the horn, assembled with the straight neck (to the left is my Yamaha’s case, not the Antigua’s)

The shop where I ordered the horn (not the accessories)

A warm greeting on the back : “Inspected & play tested 8/14/10 by Chuck Kessler  – Enjoy!”

All costs me about IDR (Indonesian Rupiah) 13 million – that would be around USD 1400 – such a nice price for a soprano sax.

.

The 3286BQ is a special model which is not included on Antigua’s website & sounds GREAT for the price (of course, looks beautiful too in black nickel & gold body). In 2006 it’s said that they only made 12 of it (by the special request of this shop), but I believe that to this day they already made more. Still, it’s not included on their site. After reading lots of reviews of Antiguas on SOTW (SaxOnTheWeb) forum, I choose this one.

.

I’m trying to write some day-by-day notes, for perhaps a week or more, about my experiences practicing & performing with this horn. A blog post may contain more than one day. Let’s begin… Another story of an alto player trying to make  some good deals with a soprano. Before we get further, I need to inform you that every note, every pitch I’m going to talk is in concert pitch (A = 440), not the saxophone’s pitch.

.

1 September 2010

———————–

My soprano saxophone arrived! *oh, wait… why it’s like I’m going back to the top?? 😛 * okay, you may read the top again and then proceed…

So, I start preparing my Vandoren Java reeds & Selmer mouthpiece after trying to play the standard given setup, a 4C (not Yamaha) mouthpiece and a Rico 2 1/2 reed. Sounds good, not yet check the tunings.

Ok, blow… and the Vandoren’s just didn’t go well. “Maybe it’s too hard for me now,” And then I sub it with a Rico Jazz Select, my favourite reed on alto. It speaks well… Now for (one of) the  biggest challenge on soprano : to tune it. I’ve heard that it’s hard to do even for some well experienced altoist.

First step, I push the mouthpiece about 3/4 of (space on) the neck. Then I recorded a D Major scale (up and down) on my digital piano, trying to tune myself to that passage. Oh, am I too sharp? I pull it back a little. After several times pulling it… “Am I too flat now?” and push it again. This took almost an hour until I think it’s good and would check it again later. I recorded a piano accompaniment for the song “God Rest Ye Merry Gentlemen” (in D minor) and start playing. Ok, cut! Did I tell you that’s just for the first neck (the straight one)? Then I’m out for dinner.

A thing about tuning: sometimes I would listen to the passage, paused, and sing it to keep those notes on my mind, then start playing the sax along with it. This build a better pitch awareness; on a soprano I’m not looking for a 100% perfect, as Steve Lacy said that some of the flatness or sharpness are truly false, don’t try to correct it. Instead, I’m trying to be as acceptable as can be.

After dinner and brushed my teeth, I’m coming back and try the curved neck this time. Didn’t took so much time as the previous neck; I already got the big picture, and actually the tuning didn’t differ a lot. I just downloaded some backing tracks from the net few days ago, so I choose “Don’t Get Around Much Anymore” in C. Play along, and then record it (with Shure SM58 pointed down to the bell). Well, in the end I realized there are still a lot of homework to do 😛 including trying to get used to hold it (comfortably). Neck strap and curved neck won’t guarantee it. Trying to adjust this homemade (from an unused bag’s shoulder strap; it has a nice hook & lock – I wore it on alto)  neck strap……

I really hope  I can use it on this Sunday’s church services.