Tag Archives: mouthpiece

Essential Sax Accessories and A Little Note About Brands

29 Oct

Cukup lama juga gw belum post artikel2 baru lagi di sini…

Beberapa waktu lalu, ada yang bertanya beberapa hal tentang saxophone lewat e-mail. Setelah mengirimkan balasan, gw baru sadar kalo apa yg gw kirim itu ternyata lebih mirip blog post ya… Jadi gw masukkan juga ke blog ini:

 

“Halo mas robert, kenalin saya XYZ dari Palembang, umur saya sekarang 18th masuk 19th, saya sekarang ingin belajar saxophone namun disini sangat jarang sekali yang bisa memainkannya, sampai kursus nya pun tak ada, jadi saya memutuskan untuk belajar sendiri sembari menunggu guru, dan sebaiknya menurut anda apa saja aksesoris yang diperlukan untuk pemula? Dan apakah merk sebuah saxophone mempengaruhi kualitas?
Terima kasih atas waktunya.”

 

Jawab:

Halo.. sorry baru balas sekarang ๐Ÿ™‚ Oow, teman2 yg pmain saxo kayaknya banyaknya di Medan ya hehehe tapi secara umum memang trend saxo sedang cukup meningkat di banyak daerah, semoga ga lama lagi makin rame juga di Palembang.

Untuk aksesoris, beberapa yg penting:

Mouthpiece

Biasanya, mouthpiece bawaan dari saxo, sudah cukup baik untuk belajar. Tapi, biasanya yg bawaan dari saxo taiwan atau china, kualitasnya kurang konsisten. Umumnya, banyak yg merekomendasikan mouthpiece Yamaha (4C atau 5C) atau Rico (A3 atau A5) untuk belajar.

Ligature

Pengikat reed di mouthpiece, biasanya yg bawaan dari saxonya sudah cukup baik. Kalaupun rusak dan sulit dibetulkan atau dicari gantinya, bisa dibuat sendiri dengan pengikat2 kabel atau velcro.

Reed
Sebaiknya siapkan lebih dari satu reed, misalnya 3-5pcs reed. Pemakaiannya dirotasi setiap latihan (bukan dipakai “satu sampai habis”), supaya lebih awet. Lebih bagus lagi kalau reed dilabel/dinomori supaya ingat urutan rotasinya. Biasanya utk awal belajar, pakai ukuran reed 2 atau 2.5. Nantinya, ukuran ini disesuaikan juga dengan ukuran mouthpiece, selera suara, dan kenyamanan mainnya (bukan berarti mesti “kejar nomor ukuran” seberat2nya hehehe).

Cork grease

Semacam minyak untuk melicinkan gabus di neck, supaya lebih mudah masukkin mouthpiece. Bisa juga dipakai di ujung neck, kalau neck agak sulit dimasukkan ke body. Selain cork grease merek2 tertentu seperti Rico, bisa juga pakai semacam Vaseline.

Kain / sikat pembersih

bisa pakai pad saver (semacam kemoceng) atau cleaning swab (kain yg diikat tali ujungnya, bisa juga dibuat sendiri). Cleaning swab umumnya lebih optimal utk bersihin bag dalam saxo, tapi pad saver lebih praktis dipakenya hehehe. Ada juga sikat untuk mouthpiece, dan sikat utk neck. Kalau sulit carinya, cukup cari sikat neck aja, bisa dipake utk mouthpiece juga.

Strap

Setiap latihan / perform, terutama kalau main alto atau tenor, selalu pakai strap. Pastikan setel panjangnya yang nyaman, cukup membagi beban dengan pundak/leher kita, jadi jempol kanan lebih utamanya utk mengarahkan alat ke kita, bukan menahan beban. Leher juga jangan sampai terlalu turun.

Ada aksesoris2 lain yg membantu juga, seperti powder paper untuk membersihkan pads yg lengket, supaya lebih lancar buka tutupnya, mouthpiece patch/cushion untuk melindungi bagian atas mouthpiece dan agak meredam getaran gigi ketika main (posisi mulut jadi lebih stabil, tidak terlalu licin), dll.

Merek saxophone menentukan kualitas? Ada benarnya, misalnya merek Selmer, Yamaha, Yanagisawa, Keilwerth, Conn… ada merek2 seperti yang memang sudah terkenal lama dgn produksi sax yg bagus2. Tapi, ada juga merek2 buatan Taiwan/China/Vietnam yg kualitasnya cukup ok untuk belajar (perbandingan harga dengan kualitasnya), seperti Zeff France, Maxtone, Hermes,dll.. Yang penting, kondisi saxnya sehat.
Memang, student sax buatan Taiwan atau China ada juga yg kualitas produksinya kurang konsisten, kadang ditemukan satu atau dua kekurangan pada barang barunya. Tapi dengan diservis sedikit, siap untuk latihan dan manggung lagi. Ada juga pedagang2 sax yg juga teknisi, jadi ketika barang datang, sudah mereka cek dan servis. Kalau saya, biasanya sax yang mau saya jual, kalau saya rasa ada yg kurang enak, dibawa servis ke pak Jimbot (teknisi senior di Jakarta, sering menangani saxo pemain2 senior).
Jadi, merek bisa menentukan kualitas, tapi ada juga merek2 yg mungkin ga terlalu terkenal, tapi kualitasnya bisa di atas harganya ๐Ÿ™‚
_________
Pertanyaan di atas termasuk cukup umum, dan beberapa jawaban dan penjelasannya seinget gw ada di beberapa post gw dulu. Tapi gw tetep post ini, utk refresh aja. Dan untuk menyemangati gw, lebih banyak menulis lagi :p
Advertisements

Dijual: Aksesoris dan Alat Musik, Perlengkapan Studio Musik

19 May

Berikut ini ada update barang2 yg mau saya jual (Harga-harga sudah NETT untuk COD di Jakarta. Belum termasuk biaya pengiriman dengan JNE / GrabExpress). Bila berminat, hubungi saya di 08568501466 (Whatsapp atau SMS)

Alat Musik:

Roland SH-201 synthesizer + custom gig bag (tebal, aman, nyaman) + adaptor original – Rp 3.800.000

 

Selmer Signet alto sax + Selmer Goldentone mouthpiece + H.Couf Special mouthpiece + Rico reeds (2pcs) + Rico neckstrap – Rp 6.800.000

Conn Pan American + Conn Precision mouthpiece + Jupiter Germany mouthpiece + Rico reeds (2pcs) + Rico neckstrap + hardcase – Rp 5.000.000

Dolnet France clarinet + Yamaha Custom mouthpiece + Rico Royal mouthpiece + hardcase – Rp 3.800.000

IMG_20150519_125242

Yamaha BB 414 vintage white – Rp 2.700.000

.

 

 

 

Meyer 7M vs D’Addario Select Jazz 6M

20 Apr

Setelah dalam beberapa tahun ini mencoba berbagai mouthpiece alto sax, 2 mp yg paling saya suka adalah Meyer HR dan Selmer Soloist. Pernah punya Meyer Richie Cole 5M (sold) dan Selmer Soloist (E dan C** – dua2nya sold), dan masih agak nyesel kenapa waktu itu dijual.

Sekitar 4 bulan terakhir, saya pakai Meyer 7M (produksi saat2 ini, bukan yg vintage). Waktu pesan mp ini, sebenarnya saya agak ragu mau ambil ini atau D’Addario (yg beli Rico) Select Jazz. Apalagi harganya berdekatan.

Beberapa hari lalu, ketika jalan2 di MG Pondok Indah, saya menemukan ternyata DA select jazz ini dijual juga di sana. Seingat saya, biasanya mp Rico yg mereka jual hanya seri Graftonite dan Metalite. Tergoda, akhirnya saya beli juga.

Sampai di rumah, langsung dicoba dan sangat cepat merasa familiar. D’Addario berhasil menghadirkan Meyer di mp ini. Saya pernah mencoba beberapa merek lain yg juga berusaha recreate Meyer, tapi ternyata lebih terasa karakter merek tersebut. D’Addario surely done a great job.. with a few notes. Berikut ini saya bandingkan Meyer 7M saya dgn DA select jazz 6M.

Dalam paket penjualannya, DA Select Jazz hanya menyertakan mp saja, tidak diberi ligature dan cap seperti Meyer.

Untuk baffle, menurut saya, Meyer bafflenya sedikit lebih tinggi dibanding DA.
Tip rail – Meyer lebih tipis daripada DA
Overall finish – Meyer lebih smooth rapi, DA lebih kasar di bagian dalamnya.


(bore dan chamber Meyer)


(bore dan chamber DA Select Jazz)

Chamber – sama2 round, tapi DA lebih rapi bulatannya.
Bore – DA lebih kecil lingkar badannya daripada Meyer. Terasa lebih sempit ketika dimasukkan ke neck cork.

Berikut ini video demo singkat saya, dengan sax Selmer Model 26, ligature standar Meyer, dan reed Legere Standard #2.5 tenor sax.

Sebagai tambahan, ini review dari majalah Downbeat, Maret 2015:

Membuat Ligature Mouthpiece Saxophone

15 Aug

Ada beragam jenis ligature untuk mouthpiece, dari yg standard 2-screw berbahan kuningan atau plastik, 1-screw yang berbahan kain atau kulit, berbentuk seperti rantai yang bisa disesuaikan ukurannya, sampai yang seperti ring: langsung dimasukkan, tanpa sekrup.

Keisengan gw membuat ligature untuk dipakai sendiri, bermula dulu ketika masih memakai mouthpiece Beechler Custom metal 7 di alto. Waktu itu, gw membuatnya dengan pengikat selang gas. Meskipun bekerja dengan cukup baik, gw sendiri akhirnya memang kurang nyaman dengan mouthpiece ini (sekarang sudah dijual). Tahapan pembuatan ligature-nya juga belum konsisten atau pasti.

Seperti yang diceritakan di post gw sebelum ini, sekarang gw memakai mouthpiece R. Reginald Custom yang dibuat oleh JAWA Mouthpiece (Jogjakarta) di alto sax. Mouthpiece ini sangat baik, dibuat sesuai dengan request gw. Namun, masalahnya terletak di ligatur bawaannya. Gw sendiri lupa menjelaskan ke mereka bahwa gw pakai reed tenor sax untuk main alto. Ligatur dengan 1 sekrup yg dibuat terlalu pas, dan ukuran mouthpiece yg lebih gendut daripada mp alto HR/ebonit pada umumnya, membuat gw terpaksa menggunakan ligatur lain untuk mp ini. Inilah yang mendorong gw untuk mencoba membuat ligatur sendiri. Jenis yg gw pilih adalah ring ligature. Kenapa? Karena……………. lebih gampang bikinnya :’) jujur, gw ga jago prakarya. Semua ini hanyalah karena penasaran semata.

Image

Bahan-bahan:

– Nylon cable ties (pengikat kabel)

– Duct tape ย (lakban)

– Pita (optional – bisa menggunakan yg lain, setelah mengerti tahap2 di bawah)

– Karet gelang

– Gunting

Kenapa di foto ada banyak benda2 lain? Ehmmm… itu ternyata tidak terpakai :p hehehe…

Tahapan:

1. Ambil mouthpiece yg akan dibuatkan ring ligature (kemungkinan hasil jadi di satu mouthpiece, tidak/kurang cocok dipakai di mouthpiece lain), posisikan reed di mp. Sekali lagi, karena gw biasa main alto dengan reed tenor, jadi di sini gw pakai reed tenor.

2. Ikat dengan pengikat kabel, satu-persatu.

Image

Image

Setelah diikat dengan 2 atau 3 pengikat, seperti di gambar, sebenarnya setup ini sudah cukup enak untuk dimainkan (coba saja). Sayangnya, cara mengikat di atas ini masih kurang baik. Iya, sorry kalau terkesan menjerumuskan….

Kalau kita ikat sampai pas (mentok dengan reed) seperti di gambar, maka nanti ketika semua rangkaian ini disambungkan, mungkin bisa ditarik keluar (dengan paksa), tapi tidak bisa dimasukkan kembali alias kekecilan. Perhitungkan ukuran pengikat rangkaian ligaturย (pita) yang turut menambah ketebalan ligatur ke dalam. Jadi, mari kita ulang lagi:

ImageDi sini, gw memberi jarak dengan reed secara bertingkat, mengikuti bentuk body mouthpiece ini yg membesar ke bawah. Untuk mouthpiece yang bentuknya lurus, jarak dengan reed bisa disamakan.

3. Rekatkan rangkaian pengikat2 ini dengan lakban. Gw menempelkannya di depan, di sekitar area logo mouthpiece. Yang penting, semuanya menempel.

4. Tarik ligatur keluar dengan hati-hati, kemudian potong/rapikan sisa panjang pengikat2 kabel.

5. Rekatkan sekali lagi area yg tadi sudah dilakban, kali ini lakban dari bagian dalam. Jadi ditempel dari 2 sisi.

6. Ikat area yang sudah dilakban, dengan tali pita. Tujuannya untuk menguatkan lagi ikatan rangkaian ini, menutupi tempelan lakban, menjadi bantalan tambahan yang turut menguatkan ikatan ligature terhadap reed (JANGAN tambahkan lakban di dalam untuk bantalan, karena akan meninggalkan jejak-jejak lem ketika dipakai. Tambahkan saja ikatan pita.), dan menambah cantik ๐Ÿ˜‰ *halaaaah*

Image

Jadi! “Lho, kok hasilnya dipakai di mp JAWA? Bukan di Selmer SD20 tadi?” Ya, kebetulan ternyata bisa muat juga :p ….Nah, hasil ikatan pita di tengahnya seperti itu. Gw yakin, temen2 bisa bikin lebih rapi :’)

Hasil dari ligature yang bentuknya kalau gw amati mirip2 dengan Rovner Star ini, menurut gw karakter suaranya cukup dark, dengan respon yg tetap baik, tidak terlalu ย tertahan-tahan. Ini opini gw.

…..

Sudah selesai? Belum, gw masih penasaran dengan kesalahan gw di awal tadi. Gw rasakan, dengan posisi antar pengikat yang lebih berjarak dan lebih sedikit, hasil suaranya louder, brighter, dan responnya lebih enteng lagi. Dan mulailah gw mencoba membuat satu lagi, yang modelnya seperti ini.

Tahapan:

1. Ambil mouthpiece. Letakkan 1 pengikat secara vertikal, sebagai rangka di tengah depan mouthpiece. Ikat sedikit bagian bawahnya dengan karet gelang, untuk sekadar menahannya.

Image2. Posisikan reed di mp seperti tadi, ikat dengan pengikat (dengan berjarak dengan reed), kali ini 2 pengikat saja, atas dan bawah.

3. Rekatkan rangka dengan 2 pengikat ini, dengan lakban.

Image

4. Tarik keluar ligatur dengan (lebih) hati-hati. Rangkaian ini lebih “rentan” dibanding yang pertama tadi. Rekatkan rangka bagian dalam dengan lakban.

Image

5. Potong/rapikan sisa panjang pengikat kabel, ikat bagian rangka dengan tali pita. Hati-hati, jangan sampai miring sebelah. Jarak antar pengikat mungkin akan sedikit berkurang, tidak apa-apa.

Image

Kedua jenis ligature siap digunakan! ๐Ÿ˜€ Masing2 karakternya berbeda. Seperti perkiraan gw, yg 2-ring lebih bright, loud, dan responnya lebih enteng.

Dengan berbagi tips ini, gw tidak bermaksud mengatakan bahwa ligature ini pasti lebih baik dari ligature yg umum dijual. Semuanya kembali ke kenyamanan dan selera masing-masing pemain, yang tentunya sangat subjektif. Ligature yg gw buat ini, bekerja dengan baik untuk gw (dan murah.. hahahah), belum tentu untuk orang lain. Tertarik mencoba?

Demo – R. Reginald Custom Alto Sax Wooden Mouthpiece (by JAWA Mouthpiece, Indonesia)

25 Jul

Ya, betul… ini mouthpiece custom pertama gw. Mouthpiece pertama yg dibuat karakternya sesuai pesanan gw. Sekaligus, ini pertama kalinya gw memakai mouthpiece kayu.

Image

Sekitar seminggu setelah dipesan, mouthpiece ini sampai ke rumah gw, dari JAWA Mouthpiece di Jogjakarta. Mouthpiece ini datang dengan kelengkapannya kantong kain, kain lap, dan ligature. Sayangnya, ligature ini ngepas banget ukurannya (Gw terbiasa pakai reed tenor untuk main alto. Tapi, ligature ini muat di mouthpiece alto gw yg lain.), jadi gw pakai Rico H-ligature di mouthpiece ini. Reed: Legere Classic #2 tenor sax.

Pesanan awalnya, gw mengharapkan mouthpiece yg suaranya dark & fat, dan easy blowing. Tapi, gw mendapat “bonus”, mouthpiece ini ternyata lumayan loud, powerful juga. Karakter-karakter dari hasil akhirnya cukup memuaskan gw, tapi tetap masih ada hal2 yang perlu diuji seiring dengan lama pemakaian, terutama karena bahannya kayu. FYI, blog post ini gw buat sekitar seminggu setelah mouthpiece ini sampai di rumah. Dalam waktu itu, gw sempat merasakan perubahan2 intonasi dan tuning. Mouthpiece yg gw pakai sebelumnya (Selmer SD20) terasa lebih stabil daripada mouthpiece ini.

Terlepas dari plus-minusnya, ini mouthpiece yg keren dengan ukiran2 dan tambahan ring di bawahnya. Harganya juga termasuk murah untuk custom mouthpiece. Gw berharap JAWA mouthpiece dapat segera membuat custom mouthpiece dengan bahan ebonit dan/atau metal. Keep up the great work!

Demo singkat dari mouthpiece ini:

Mulai Belajar Saxophone (part 3)

23 Sep

Ini dia bagian ketiga dari kumpulan beberapa pertanyaan yg sering diajuin ke gw tentang mulai belajar saxophone:

#6. Mulai belajar pakai sax tipe apa?

Untuk mulai, tipe yang paling banyak disarankan adalah alto. Tenor sering dianggap agak terlalu berat, baik secara fisik alatnya maupun breath support yang diperlukan. Sopran lebih ringan dari alto (fisik dan breath support), tapi memerlukan pitch dan tone control yang lebih baik (bisa agak intimidating bagi pemula, bahkan intermediate player).

Alto sering direkomendasikan karena berada “di tengah2” dua jenis ini, not too heavy, not too easy, not too hard… Selain itu, harga alto relatif lebih murah untuk merk yang sama dan range produk yang sama (bandingkan alto untuk beginner dengan tenor untuk beginner dari merk yang sama). Ketika suatu waktu nanti memutuskan untuk “pindah” ke jenis saxophone lain, alto bisa tetap disimpan; bisa digunakan untuk mengajar.

Meskipun begitu, belajar saxophone sebenarnya bisa dimulai dengan tipe apa saja, dengan niat dan semangat.

#7. Saya belum pernah belajar musik / memainkan alat musik… Apa bisa belajar saxophone?

Ya, bisa. Memainkan alat musik apapun, secara mekanikal bisa dipelajari tanpa pengetahuan akan musik / alat musik lain sebelumnya. Namun, melihat perkembangan ke depannya, gw merekomendasikan untuk memahami (tidak harus sampai level master / sangat mahir) alat musik lain, terutama piano atau gitar.

Sebuah saxophone hanya menghasilkan permainan melodi. Padahal, untuk survive, jika ingin meneruskan lebih dari sekadar hobi, diperlukan pemahaman yang baik akan aspek lain seperti harmoni, chord, dan ritme, yang agak sulit dipelajari dengan saxophone saja.

Jika merasa ragu untuk memelajari piano / gitar, entah karena biaya tambahan untuk mengadakannya atau tambahan waktu yg signifikan untuk latihan, melodika/pianika bisa jadi alternatif yang baik.

Sisi positif menggunakan melodika/pianika :

1. Harga relatif murah. Sekitar 100an ribu. Tipe teratas keluaran Yamaha Rp 420.000,00.

2. Mudah didapat. Di toko-toko bukupun biasanya ada.

3. Mudah dimainkan, breath support yang dibutuhkan tidak sebesar saxophone. Tutsnya pun ringan.

4. Dapat memberikan gambaran mengenai sound akor dan harmoni.

Namun, ada sisi negatifnya juga :

1. Tidak dianjurkan untuk menyetem dengan pianika, apalagi pianika yang murah. Biasanya not-not pianika tidak dalam penalaan yang equal / sama. Mainkan not C, bandingkanlah pada oktaf yang berbeda. Jika dimainkan bersamaan (misal C2 dengan C3), akan terdengar seperti terdapat efek chorus. Untuk menyetem melodika, ada cara tersendiri.

2. Embouchure dan teknik meniup yang berbeda bisa menyulitkan pemula (ketika kembali lagi ke saxophone). Perlu waktu untuk penyesuaian jika sering latihan berganti-ganti instrumen. Saxophone bisa terasa jauh lebih “berat” / kurang familiar, atau sebaliknya.

Sekali lagi, jawaban dari pertanyaan ini : bisa :).

#8. Berapa lama sebaiknya latihan sehari? Apa saja yang (minimal) dilatih seandainya tidak punya banyak waktu?

Biasanya gw latihan sekitar 30 menit โ€“ 1 jam sehari. Kadang (misalnya ketika latihan sopran) bisa sampai 2 jam.

Setiap orang bisa memiliki tingkat penyerapan materi yg berbeda, tetapi gw menyarankan latihan2 tidak dilakukan langsung (cth : 2 jam), tapi dibagi misalnya 2×1 jam atau 3×40 menit. Jangan terlalu memaksakan diri, karena dapat berakibat cedera. Selain itu, biasanya kemampuan penyerapan materi akan cenderung menurun. Misal dalam 1 jam kursus / latihan, “waktu efektif” seringkali sekitar 30-50 menit.

Jika tidak punya banyak waktu (misal 20 menit), kita bisa memanfaatkannya dengan latihan seperti ini :

5 menit -> memasang dan merapikan kembali saxophone, termasuk membersihkannya.

5 menit -> 2 sampai 4 tangga nada, dimainkan naik turun secara biasa dan dengan interval (misal tangga nada C : C1-C1, C-D, C-E, C-F, C-G, C-A, C-B, C1-C2)

5 menit -> arpeggio pola 1-3-5 (misal: di C -> C-E-G, E-G-C, G-C-E) atau pola lainnya, naik dan turun sesuai range jenis saxophone yang dipakai. Di 2 tangga nada.

5 menit -> long tones. 3 not di register yang berbeda : low, medium, high, dari range jenis saxophone yang dipakai.

Sebaiknya tidak melakukan semua latihan di atas dengan terburu-buru. Perhatikan juga kualitas tone yang dihasilkan.

#9. Bagaimana dengan aksesoris-aksesoris? Apa saja yang diperlukan dan ukuran-ukurannya?

Jujur, terkadang harga aksesoris saxophone bisa membuat kening berkerut. Beberapa di antaranya terkesan kurang masuk akal. Neck strap Rp 80.000 – lebih dari Rp 200.000? Cleaning swab โ€“ kain yang diberi rangka dan tali untuk membersihkan bagian dalam saxophone- bisa di atas Rp 400.000 ? Reed -potongan kayu kecil yang diikat/jepit di mouthpiece, seperti senar pada gitar- yang harganya sekitar Rp 300.000-an ke atas untuk 1 box isi 10 pcs? Mungkin agak “menyeramkan”.

Aksesoris yang penting :

Mouthpiece *

Reed *

Ligature *+

Neck strap *+

Cleaning swab / pad saver +

Cork/mouthpiece brush +

Cork grease *

* : Biasanya sudah disediakan / satu paket ketika membeli saxophone baru.

+ : Bisa “diakali”, dibuat sendiri.

Neck strap bisa dibuat dari tali tas travel (dijahit untuk memudahkan menyesuaikan ukuran).

Cleaning swab bisa dibuat dari kain polishing (biasanya termasuk dalam paket) yang ujungnya diikat tali, tapi sebenarnya lebih baik kalau ada rangka fleksibelnya, yang mengikuti bentuk saxophone.

Cork/mouthpiece brush bisa dibuat dari sikat bergagang kecil dan fleksibel (bisa dibengkokkan, untuk mengikuti bentuk leher saxophone), tapi sebaiknya tidak menggunakan sikat bulu2 yang semuanya kasar. Modifikasi boleh dicoba.

Untuk ligature, ada teman yang pernah “mengakali” dengan beberapa tali pengikat kabel. Gw belum pernah coba dan sejauh ini tetap merekomendasikan saxophone ligature, tapi ini bisa jadi ide yang bagus dalam keadaan darurat.

Untuk mouthpiece, biasanya yang standar diberikan dalam paket adalah ukuran (nomor) kecil, yang cukup untuk “mengenalkan” teknik embouchure dan breath support untuk pemula. Sebaiknya gunakan mouthpiece ini selama beberapa bulan sampai setahun, sebelum berpikir untuk mengganti mouthpiece.

Untuk reed, dalam paket biasanya diberikan 1 potong reed, berukuran 2 atau 2.5 Rico. Ukuran yang cukup umum dipakai adalah 2 untuk pemula, 2.5 atau 3 untuk intermediate sampai pro (ukuran Rico). Untuk merk Vandoren, biasanya lebih tebal ยฝ nomor dari Rico. Lebih jelasnya dapat dilihat perbandingan ukuran berbagai merk reed di sini.

Oleskan cork grease pada neck saxophone baru / ketika menggunakan mouthpiece baru, supaya tidak perlu menggunakan tenaga berlebihan (bisa merusak alat) ketika memasukkan/mengeluarkan mouthpiece dari neck.