Tag Archives: reed

Essential Sax Accessories and A Little Note About Brands

29 Oct

Cukup lama juga gw belum post artikel2 baru lagi di sini…

Beberapa waktu lalu, ada yang bertanya beberapa hal tentang saxophone lewat e-mail. Setelah mengirimkan balasan, gw baru sadar kalo apa yg gw kirim itu ternyata lebih mirip blog post ya… Jadi gw masukkan juga ke blog ini:

 

“Halo mas robert, kenalin saya XYZ dari Palembang, umur saya sekarang 18th masuk 19th, saya sekarang ingin belajar saxophone namun disini sangat jarang sekali yang bisa memainkannya, sampai kursus nya pun tak ada, jadi saya memutuskan untuk belajar sendiri sembari menunggu guru, dan sebaiknya menurut anda apa saja aksesoris yang diperlukan untuk pemula? Dan apakah merk sebuah saxophone mempengaruhi kualitas?
Terima kasih atas waktunya.”

 

Jawab:

Halo.. sorry baru balas sekarang 🙂 Oow, teman2 yg pmain saxo kayaknya banyaknya di Medan ya hehehe tapi secara umum memang trend saxo sedang cukup meningkat di banyak daerah, semoga ga lama lagi makin rame juga di Palembang.

Untuk aksesoris, beberapa yg penting:

Mouthpiece

Biasanya, mouthpiece bawaan dari saxo, sudah cukup baik untuk belajar. Tapi, biasanya yg bawaan dari saxo taiwan atau china, kualitasnya kurang konsisten. Umumnya, banyak yg merekomendasikan mouthpiece Yamaha (4C atau 5C) atau Rico (A3 atau A5) untuk belajar.

Ligature

Pengikat reed di mouthpiece, biasanya yg bawaan dari saxonya sudah cukup baik. Kalaupun rusak dan sulit dibetulkan atau dicari gantinya, bisa dibuat sendiri dengan pengikat2 kabel atau velcro.

Reed
Sebaiknya siapkan lebih dari satu reed, misalnya 3-5pcs reed. Pemakaiannya dirotasi setiap latihan (bukan dipakai “satu sampai habis”), supaya lebih awet. Lebih bagus lagi kalau reed dilabel/dinomori supaya ingat urutan rotasinya. Biasanya utk awal belajar, pakai ukuran reed 2 atau 2.5. Nantinya, ukuran ini disesuaikan juga dengan ukuran mouthpiece, selera suara, dan kenyamanan mainnya (bukan berarti mesti “kejar nomor ukuran” seberat2nya hehehe).

Cork grease

Semacam minyak untuk melicinkan gabus di neck, supaya lebih mudah masukkin mouthpiece. Bisa juga dipakai di ujung neck, kalau neck agak sulit dimasukkan ke body. Selain cork grease merek2 tertentu seperti Rico, bisa juga pakai semacam Vaseline.

Kain / sikat pembersih

bisa pakai pad saver (semacam kemoceng) atau cleaning swab (kain yg diikat tali ujungnya, bisa juga dibuat sendiri). Cleaning swab umumnya lebih optimal utk bersihin bag dalam saxo, tapi pad saver lebih praktis dipakenya hehehe. Ada juga sikat untuk mouthpiece, dan sikat utk neck. Kalau sulit carinya, cukup cari sikat neck aja, bisa dipake utk mouthpiece juga.

Strap

Setiap latihan / perform, terutama kalau main alto atau tenor, selalu pakai strap. Pastikan setel panjangnya yang nyaman, cukup membagi beban dengan pundak/leher kita, jadi jempol kanan lebih utamanya utk mengarahkan alat ke kita, bukan menahan beban. Leher juga jangan sampai terlalu turun.

Ada aksesoris2 lain yg membantu juga, seperti powder paper untuk membersihkan pads yg lengket, supaya lebih lancar buka tutupnya, mouthpiece patch/cushion untuk melindungi bagian atas mouthpiece dan agak meredam getaran gigi ketika main (posisi mulut jadi lebih stabil, tidak terlalu licin), dll.

Merek saxophone menentukan kualitas? Ada benarnya, misalnya merek Selmer, Yamaha, Yanagisawa, Keilwerth, Conn… ada merek2 seperti yang memang sudah terkenal lama dgn produksi sax yg bagus2. Tapi, ada juga merek2 buatan Taiwan/China/Vietnam yg kualitasnya cukup ok untuk belajar (perbandingan harga dengan kualitasnya), seperti Zeff France, Maxtone, Hermes,dll.. Yang penting, kondisi saxnya sehat.
Memang, student sax buatan Taiwan atau China ada juga yg kualitas produksinya kurang konsisten, kadang ditemukan satu atau dua kekurangan pada barang barunya. Tapi dengan diservis sedikit, siap untuk latihan dan manggung lagi. Ada juga pedagang2 sax yg juga teknisi, jadi ketika barang datang, sudah mereka cek dan servis. Kalau saya, biasanya sax yang mau saya jual, kalau saya rasa ada yg kurang enak, dibawa servis ke pak Jimbot (teknisi senior di Jakarta, sering menangani saxo pemain2 senior).
Jadi, merek bisa menentukan kualitas, tapi ada juga merek2 yg mungkin ga terlalu terkenal, tapi kualitasnya bisa di atas harganya 🙂
_________
Pertanyaan di atas termasuk cukup umum, dan beberapa jawaban dan penjelasannya seinget gw ada di beberapa post gw dulu. Tapi gw tetep post ini, utk refresh aja. Dan untuk menyemangati gw, lebih banyak menulis lagi :p
Advertisements

Mulai Belajar Saxophone (part 3)

23 Sep

Ini dia bagian ketiga dari kumpulan beberapa pertanyaan yg sering diajuin ke gw tentang mulai belajar saxophone:

#6. Mulai belajar pakai sax tipe apa?

Untuk mulai, tipe yang paling banyak disarankan adalah alto. Tenor sering dianggap agak terlalu berat, baik secara fisik alatnya maupun breath support yang diperlukan. Sopran lebih ringan dari alto (fisik dan breath support), tapi memerlukan pitch dan tone control yang lebih baik (bisa agak intimidating bagi pemula, bahkan intermediate player).

Alto sering direkomendasikan karena berada “di tengah2” dua jenis ini, not too heavy, not too easy, not too hard… Selain itu, harga alto relatif lebih murah untuk merk yang sama dan range produk yang sama (bandingkan alto untuk beginner dengan tenor untuk beginner dari merk yang sama). Ketika suatu waktu nanti memutuskan untuk “pindah” ke jenis saxophone lain, alto bisa tetap disimpan; bisa digunakan untuk mengajar.

Meskipun begitu, belajar saxophone sebenarnya bisa dimulai dengan tipe apa saja, dengan niat dan semangat.

#7. Saya belum pernah belajar musik / memainkan alat musik… Apa bisa belajar saxophone?

Ya, bisa. Memainkan alat musik apapun, secara mekanikal bisa dipelajari tanpa pengetahuan akan musik / alat musik lain sebelumnya. Namun, melihat perkembangan ke depannya, gw merekomendasikan untuk memahami (tidak harus sampai level master / sangat mahir) alat musik lain, terutama piano atau gitar.

Sebuah saxophone hanya menghasilkan permainan melodi. Padahal, untuk survive, jika ingin meneruskan lebih dari sekadar hobi, diperlukan pemahaman yang baik akan aspek lain seperti harmoni, chord, dan ritme, yang agak sulit dipelajari dengan saxophone saja.

Jika merasa ragu untuk memelajari piano / gitar, entah karena biaya tambahan untuk mengadakannya atau tambahan waktu yg signifikan untuk latihan, melodika/pianika bisa jadi alternatif yang baik.

Sisi positif menggunakan melodika/pianika :

1. Harga relatif murah. Sekitar 100an ribu. Tipe teratas keluaran Yamaha Rp 420.000,00.

2. Mudah didapat. Di toko-toko bukupun biasanya ada.

3. Mudah dimainkan, breath support yang dibutuhkan tidak sebesar saxophone. Tutsnya pun ringan.

4. Dapat memberikan gambaran mengenai sound akor dan harmoni.

Namun, ada sisi negatifnya juga :

1. Tidak dianjurkan untuk menyetem dengan pianika, apalagi pianika yang murah. Biasanya not-not pianika tidak dalam penalaan yang equal / sama. Mainkan not C, bandingkanlah pada oktaf yang berbeda. Jika dimainkan bersamaan (misal C2 dengan C3), akan terdengar seperti terdapat efek chorus. Untuk menyetem melodika, ada cara tersendiri.

2. Embouchure dan teknik meniup yang berbeda bisa menyulitkan pemula (ketika kembali lagi ke saxophone). Perlu waktu untuk penyesuaian jika sering latihan berganti-ganti instrumen. Saxophone bisa terasa jauh lebih “berat” / kurang familiar, atau sebaliknya.

Sekali lagi, jawaban dari pertanyaan ini : bisa :).

#8. Berapa lama sebaiknya latihan sehari? Apa saja yang (minimal) dilatih seandainya tidak punya banyak waktu?

Biasanya gw latihan sekitar 30 menit – 1 jam sehari. Kadang (misalnya ketika latihan sopran) bisa sampai 2 jam.

Setiap orang bisa memiliki tingkat penyerapan materi yg berbeda, tetapi gw menyarankan latihan2 tidak dilakukan langsung (cth : 2 jam), tapi dibagi misalnya 2×1 jam atau 3×40 menit. Jangan terlalu memaksakan diri, karena dapat berakibat cedera. Selain itu, biasanya kemampuan penyerapan materi akan cenderung menurun. Misal dalam 1 jam kursus / latihan, “waktu efektif” seringkali sekitar 30-50 menit.

Jika tidak punya banyak waktu (misal 20 menit), kita bisa memanfaatkannya dengan latihan seperti ini :

5 menit -> memasang dan merapikan kembali saxophone, termasuk membersihkannya.

5 menit -> 2 sampai 4 tangga nada, dimainkan naik turun secara biasa dan dengan interval (misal tangga nada C : C1-C1, C-D, C-E, C-F, C-G, C-A, C-B, C1-C2)

5 menit -> arpeggio pola 1-3-5 (misal: di C -> C-E-G, E-G-C, G-C-E) atau pola lainnya, naik dan turun sesuai range jenis saxophone yang dipakai. Di 2 tangga nada.

5 menit -> long tones. 3 not di register yang berbeda : low, medium, high, dari range jenis saxophone yang dipakai.

Sebaiknya tidak melakukan semua latihan di atas dengan terburu-buru. Perhatikan juga kualitas tone yang dihasilkan.

#9. Bagaimana dengan aksesoris-aksesoris? Apa saja yang diperlukan dan ukuran-ukurannya?

Jujur, terkadang harga aksesoris saxophone bisa membuat kening berkerut. Beberapa di antaranya terkesan kurang masuk akal. Neck strap Rp 80.000 – lebih dari Rp 200.000? Cleaning swab – kain yang diberi rangka dan tali untuk membersihkan bagian dalam saxophone- bisa di atas Rp 400.000 ? Reed -potongan kayu kecil yang diikat/jepit di mouthpiece, seperti senar pada gitar- yang harganya sekitar Rp 300.000-an ke atas untuk 1 box isi 10 pcs? Mungkin agak “menyeramkan”.

Aksesoris yang penting :

Mouthpiece *

Reed *

Ligature *+

Neck strap *+

Cleaning swab / pad saver +

Cork/mouthpiece brush +

Cork grease *

* : Biasanya sudah disediakan / satu paket ketika membeli saxophone baru.

+ : Bisa “diakali”, dibuat sendiri.

Neck strap bisa dibuat dari tali tas travel (dijahit untuk memudahkan menyesuaikan ukuran).

Cleaning swab bisa dibuat dari kain polishing (biasanya termasuk dalam paket) yang ujungnya diikat tali, tapi sebenarnya lebih baik kalau ada rangka fleksibelnya, yang mengikuti bentuk saxophone.

Cork/mouthpiece brush bisa dibuat dari sikat bergagang kecil dan fleksibel (bisa dibengkokkan, untuk mengikuti bentuk leher saxophone), tapi sebaiknya tidak menggunakan sikat bulu2 yang semuanya kasar. Modifikasi boleh dicoba.

Untuk ligature, ada teman yang pernah “mengakali” dengan beberapa tali pengikat kabel. Gw belum pernah coba dan sejauh ini tetap merekomendasikan saxophone ligature, tapi ini bisa jadi ide yang bagus dalam keadaan darurat.

Untuk mouthpiece, biasanya yang standar diberikan dalam paket adalah ukuran (nomor) kecil, yang cukup untuk “mengenalkan” teknik embouchure dan breath support untuk pemula. Sebaiknya gunakan mouthpiece ini selama beberapa bulan sampai setahun, sebelum berpikir untuk mengganti mouthpiece.

Untuk reed, dalam paket biasanya diberikan 1 potong reed, berukuran 2 atau 2.5 Rico. Ukuran yang cukup umum dipakai adalah 2 untuk pemula, 2.5 atau 3 untuk intermediate sampai pro (ukuran Rico). Untuk merk Vandoren, biasanya lebih tebal ½ nomor dari Rico. Lebih jelasnya dapat dilihat perbandingan ukuran berbagai merk reed di sini.

Oleskan cork grease pada neck saxophone baru / ketika menggunakan mouthpiece baru, supaya tidak perlu menggunakan tenaga berlebihan (bisa merusak alat) ketika memasukkan/mengeluarkan mouthpiece dari neck.